Sabtu, 18 Februari 2012

Sains dan Sunatullah (1)

Diunduh dari laman : renny.student.umm.ac.id/sains-dan-sunnatullah/umm, dengan judul : Sains dan Sunnatullah , dan dipasang kembali dalam rangka tindak lanjut pembentukan kerangka fikir sain terpadu .

Sains dapat menyingkap berbagai tirai sunatullah. Melalui pembuktian itu, rahasia alam yang sebelumnya diragukan kebenaran menjadi “benar”. Artinya, sains telah mengantarkan manusia memahami kehendak Allah secara tepat dan benar. Tirai yang telah tersingkap ini belum tentu sepenuhnya menjadi kebenaran mutlak dan memberi peluang bagi penelitian lanjutan untuk membantah temuan tersebut.  Penuturan Suparno Satira dari LPPM-UNISBA kepada Tim CMM, di Bandung beberapa waktu yang lalu. Inilah petikannya:

Bagaimana hubungan antara kehendak Allah, Sunatullah, dan Sains?

Hukum syariah merupakan kodifikasi dari kehendak Allah Swt melalui Rasulallah Saw untuk menuntun pengembangan peradaban umat manusia. Peradaban yang terus berkembang menyiratkan bahwa kehendak Allah Swt tidak mungkin seluruhnya disampaikan secara gamblang melalui RasuI-Nya. Apa yang tersurat dalam wahyu dan diuraikan lebih lanjut melalui sunah RasuI-Nya masih memerlukan penafsiran dan kodifikasi lebih lanjut. Di lain pihak, kehendak Allah Swt tidak mungkin seluruhnya diuraikan dalam format hukum syariah. Lebih rinci dan lebih aktual kehendak Allah Swt diwujudkan melalui hukum-hukum Allah di alam semesta ini, atau yang lebih populer disebut sebagai Sunatullah. Penafsiran dari Sunatullah inilah yang sebagian diantaranya diungkapkan dalam wilayah yang sering disebut Sains.

Apa alasan yang menyebabkan sebagian dari Sunatullah saja yang berhasil diungkap oleh Sains?

Kodrat manusia yang diciptakan dengan segala keterbatasan menutup potensi pengembangan manusia dalam mendeteksi, mengetahui dan memikirkan segala sesuatu yang ada dan terjadi dialam ini. Keterbatasan dalam cakupan dimensi ruang, dimensi waktu maupun dimensi lainnya, seperti pengembangan sel dan lain sebagainya. Kemampuan manusia yang dibatasi Allah inilah yang membuat Sunatullah hanya sebagian saja yang terungkap melalui sains. Dilihat dari kemampuan individual, secara fisik menghadapi tantangan keterbatasan pula. Dewasa ini, di seluruh muka bumi ini, diperkirakan setiap hari diluncurkan atau dihasilkan tidak kurang dari 100.000 buah artikel atau sumber informasi dari seluruh bidang. Melihat angka ini, rasanya tak mungkin ada seseorang yang mampu menyerap dan mengikuti perkembangan informasi secara menyeluruh.

Apakah sunatullah yang terungkap sebagiannya saja itu berkaitan dengan keterbatasan kemampuan manusia?

Sosok sunatullah yang didominasi oleh fakta-fakta empirik, hanya yang terkesan, terasa, terlihat oleh indera dan kepanjangannya dalam bentuk alat ukur. Kemampuan manusia dengan menggunakan kepanjangan potensi alat ukur inipun oleh Allah swt, secara konseptual diakui para saintis adanya batas nilai tertentu. Batas nilai ini telah lama diungkapkan sebagai batas toleransi yang sanggup dicapai manusia.
Keterbatasan, sebagai kodrat dari makhluk Allah, mengakibatkan bahwa tak mungkin seluruh sunatullah diungkap oleh pengetahuan sains. Di luar wilayah pengetahuan sains masih terdapat wilayah sunatullah yang sangat luas. Secara normatif, hukum-hukum syariah telah memberikan isyarat adanya sunatullah yang perlu dikaji dan diungkapkan oleh Iptek secara tuntas. Masih sangat banyak terminologi syariah yang termuat dalam al-Quran yang perlu diungkap oleh sains. Sebutlah antara lain misalnya: haramnya darah, khamar, dalam menyikapi bersuci, berwudlu, qadar dan takdir; dan berbagai masalah khilafiyah lainnya yang hadir dalam kehidupan. Di samping ketentuan syariah yang diungkapkan tersebut di atas, masih banyak pula tantangan terhadap sains untuk menguak tabir sunatullah agar mampu memberikan penjelasan terhadap keberlakuan hukum syariah lebih tinggi kualitasnya. Sebutlah sebagai contohnya masalah yang berkaitan dengan bidang penelitian kedokteran yang menyerempet rekayasa genetika, dalam bidang ekonomi yang lebih banyak tidak menggunakan ketidaktransparanan, konsep keseimbangan dalam pengertian kompetisi dan kemitraan, dan sebagainya.

Apa sebenarnya ciri utama sains?

Ciri sains yang terus berkembang diakui memiliki sifat utama yang disebut sebagai sifat ilmiah. Sifat ilmiah harus terus diterapkan oleh para pelaku pengembangan ilmu atau para ilmuwan atau cendekiawan. Penerapan sifat ilmiah pada perilaku seorang ilmuwan diwujudkan melalui sikap ilmiah, yang antara lain adalah taat asas, objektif. Pengertian sifat ilmiah dalam pengetahuan sain yang dimaksud di sini diambil dari sifat proses dan tujuan dari pengembangan iptek itu sendiri; yaitu mendasarkan keputusan dan keyakinan kebenaran pada informasi serta data-data empirik Artinya, data empirik, dijadikan sebagai satu-satunya alat pembuktian bagi keyakinan kebenaran di dalam dinamika interaksi yang berkaitan erat dengan kebenaran yang telah diakui sebelumnya. Sifat ini pula yang dirumuskan sebagai sifat taat asas dalam pengembangan lptek. Melalui sifat ini dimungkinkan terjadinya proses pengembangan yang berkelanjutan. Apabila data-data empirik yang diperoleh gagal dipakai sebagai bukti pembenaran, akan gugurlah kebenaran yang telah diyakini sebelumnya. Sebaliknya, apabila kekuatan pembuktian dari data empirik yang diperoleh belakangan tidak kuat, maka bukti akan gugur dengan sendirinya

Sains dan Sunatullah (3)

1. Pengantar

Potongan kerangka fikir dalam wawancara terdahulu disadari sangat memerlukan uraian lebih luas lagi. Oleh karena itu, melalui deretan dan untaian tulisan-tulisan selanjutnya berikut ini. Mudah-mudahan apa yang penulis mampu sajikan dapat menjadi inspirasi dan telaah lanjut, khususnya bagi para pembaca blog atau facebook ini.
Kritik-saran dan tegur-sapa sangat dibutuhkan untuk memperdalam dan mempertajam kerangka fikir ini, khususnya bagi penulis secara pribadi. Atas segala kekurangan dan kesalahannya, setelah penulis sampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang tidak berkenan, maka hanya kepada Allah jualah penulis mohonkan ampunan dan petunjuk Nya.
Billahit taufiq fi sabilil haq.
Wassalamu ‘alaikum w.w.

2. Umat terbaik dibentuk oleh individu-individu terbaik
Ilmu Pengetahuan merupakan kerangka fikir tentang hukum – hukum dalam semesta yang didasarkan pada data-data empirik. Pengembangan ilmu pengetahuan jika dibiarkan tanpa mengikutsertakan peran wahyu dari Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta akan membangun pecahnnya kepribadian (split personality) pada tingkat individual maupun tingkat komunal. Berikut ini disajikan suatu kerangka fikir dasar yang bertolak dari keyakinan bahwa Allahlah yang telah menciptakan alam semesta berserta isinya ini.
Bagaimana kesesuaian faham atau sinkronisasi antara persepsi ilmu pengetahuan empirik dengan keyakinan penciptaan alam semesta ?
Konsep ini bukan suatu pilihan jalan kompromistis, yang mengambil sebagian dari sini dan sebagian lagi dari sana, membuang sebagian dari yang ini atau mencampakkan bagian dari yang lainnya. Konsep pengembangan ilmu pengetahuan secara terpadu ( An integrated Sciences ) merupakan penyajian kebenaran yang terbangun atas dasar akidah Tauhid yang sesuai dengan fakta dan data empirik.
Alam semesta beserta isinya, kita yakini terbentuk melalui suatu proses. Proses yang terrencana dengan baik akan memiliki keadaan awal, ada alasan, ada unsur-unsur yang terlibat dan berperan, ada perubahan, ada tujuan. Dalam ruang kehidupan manusia, proses terjadi dalam suatu selang waktu tertentu. Suatu proses dapat terjadi dalam selang waktu yang sangat cepat, ada yang cepat, dan ada pula yang terjadi lambat, bahkan ada yang sangat lambat. Yang dimaksud dengan “dalam ruang kehidupan manusia” adalah dalam kerangka fikir atau pandangan manusia.
Dalam suatu kerangka fikir tertentu, sering muncul pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Benarkah Tuhan ada ?. Dimanakah Tuhan saat ini ?, Apa pekerjaan Tuhan saat ini ?. Oleh beberapa kalangan, pertanyaan-pertanyaan tersebut sering dianggap kurang ajar, yang dinilai melampaui batas dan tabu untuk dibahas. Beberapa kalangan lain, justru dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak memperoleh jawaban memuaskan tersebut, malah justru mensahkan pandangannya bahwa Tuhan tidak ada. Jawaban pertanyaan tersebut menjadi makin diperlukan kejelasan dan ketepatannya.
Bentuk jawaban – jawaban itulah yang kelak akan menentukan bentuk kualitas dari generasi sesudah kita. Apakah mereka jadi muslim yang taat dan faqih fiddiin (memahami al Islam secara bulat dan utuh), atau sekuler atau bahkan kufar. Mereka makin kritis dan makin menggantungkan pada fakta dan data empirik. Pertanyaan – pertanyaan serupa telah sangat lama, beribu tahun silam disodorkan oleh Nabi Ibrahim a.s dalam mencari kebenaran terhadap keberadaan Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Bagi kita saat ini, pertanyaan yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim a.s, mungkin biasa saja. Bukan hanya kecerdasan yang melandasi munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut; tetapi juga keberanian untuk menemukan dan menunjukkan kebenaran kepada masyarakat itulah yang kemudian Nabi Ibrahim a.s mendapat kehormatan monumental dari Tuhan. Sosok intelektual semacam ini oleh Tuhan direkomendasikan sebagai teladan setiap manusia.
Penataan kerangka fikir yang ingin disampaikan berikut ini bukan sebagai suatu argumen untuk menyatakan bahwa dalam al Qur’an ada, telah tertulis dan tersirat sejak empat belas abad silam. Justru sebaliknya, penulis yakin al Qur’an memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang selanjutnya didukung dengan kemajuan teknologi dan dihiasi oleh estetika, (yang sebagian di dalamnya terdapat nilai seni, bukan semata seni dalam artian yang kemudian berupa interpretasi seni murahan dan dangkal). Ilmu pengetahuan bertindak sebagai petunjuk (guidance), sistem nilai (norma), nasihat ; agar manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya menjadi umat terbaik (khairaan ummah).
Rasulallah, Muhammad s.a.w, adalah nabi penutup. Pernyataan ini bukan sekedar retorika yang harus diteriakkan dan dijadikan selogan semata oleh para pengikutnya. Apakah Allah berbohong dengan Wahyu dan tuntunan Nya ?. Apakah pantas umat islam diberi predikat sebagai umat terbaik sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut :
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk kemanusiaan. (Yang mampu) menyuruh berbuat kebaikan, dan mencegah dari keburukan, dan semata atas keimanan terhadap Allah. Seandainya para ahli kitab beriman, tentulah lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (S:3, al Imran , 110).
Apabila masih ada nabi-nabi lain sesudah Muhammad s.a.w., artinya Allah swt telah melakukan kebohongan publik yang menyatakan bahwa Muhammad s.a.w adalah Rasulal Nya dan sekaligus sebagai Nabi penutup. Pada ayat tersebut diatas Allah menyatakan para pengikut Muhammad s.a.w sebagai umat terbaik. Apabila benar ada nabi yang diutus Allah swt sesudah Muhammad saw, hal ini berarti dalam al Qur’an Allah berbohong, sebab tuntunan serta ajaran yang diturunkan kepada Muhammad saw masih kalah baik dibandingkan dengan para nabi kemudian.
Kalau ada orang-orang yang mengajukan pertanyaan, mengapa umat islam, atau bahkan yang menyatakan sebagai negara islam dimana-mana tak ada yang unggul , dan bahkan cenderung jadi bulan-bulanan ?. Justru sebagai seorang muslim atau yang memangku amanah sebagai tokoh, panutan umat harus mawas diri. Dalam hal ini, nampaknya kita, baik sebagai seorang muslim, maupun sebagai bagian umat islam, belum memahami dengan bulat, secara kaafah nilai-nilai di dalam ajaran yang dititipkan kepada Rasulallah , Muhammad saw.
Pengakuan dan kesadaran ini sangat penting untuk dipahami, agar kita, umat islam, tidak terjerumus dan terperangkap oleh fanatisme. Lebih berbahaya lagi bila kita dihinggapi ketakaburan dalam ketertutupan pandangan saufenistis. Sifat takabur biasanya lahir dari hanya tahu baru sedikit, tetapi merasa sudah tahu semua. Pada sisi lain muncul keinginan agar “dilihat” orang lain sementara keimanan tidak mampu berperan sebagai alat kendali mutu sebagai rakhmatan lil alaamin.

Sains dan Sunatullah (2)

Diunduh dari Tautan Forsmina.wordpress.com

Ketakwaan, Landasan Umat Terbaik
Posted by forsmina pada Maret 18, 2008

Membangun tatanan masyarakat terbaik (khairu ummah) merupakan proyek panjang umat Islam. Hal ini tidak saja karena kualitas sumberdaya umat yang masih rendah, juga karena keragaman budaya, suku, profesi, dan lain-lain yang satu sama lain memiliki kriteria berbeda-beda tentang kebaikan. Namun demikian, nilai-nilai takwa yang banyak disebut dalam al-Quran menjadi landasan utama bangunan umat terbaik. Semangat beramar makruf dan bernahi munkar di kalangan umat beragama merupakan ciri utama umat terbaik. Berikut perbincangan Reporter CMM bersama Dr. Ir. Suparno Satira, peneliti LPPM-UNISBA dan staf Pengajar ITB kepada Tim CMM di Bandung beberapa waktu yang lalu:

Apa sebetulnya hakikat tujuan hukum syariat bagi kehidupan manusia?

Hukum syariat ditujukan bagi hamba Allah agar umat manusia mencapai kualitas peradaban terbaiknya (khairaan ummah) yang dibangun oleh individu – individu berkualitas (taqwa) terbaik. Masyarakat terbaik dibangun oleh manusia-manusia berkualitas terbaik, yang di dalamnya terdapat pemimpin terbaik, pedagang terbaik, pengusaha terbaik, ilmuwan terbaik, guru terbaik, militer terbaik, petani terbaik sampai pada kaum dhuafa pun harus terbaik.

Terminologi terbaik yang disandang oleh setiap kelompok manusia itu tentunya memiliki kriteria tertentu. Bagaimana kriterianya?

Kriteria yang dimaksud inilah yang akan menjadi alat ukur sebutan buruk, sedang, baik dan terbaik. Dalam hukum syariat, yang dimaksud ukuran, adalah tingkatan untuk membedakan manusia ada yang buruk, dan ada yang baik. Namun demikian kelompok ukuran ini tidak hanya dalam dua kelompok, yaitu buruk dan baik saja; sebab di antara buruk dan baik ada seperempat baik, ada setengah baik, ada empat per lima baik dan seterusnya, sebagaimana layaknya kita memiliki nilai-nilai yang sering dinyatakan dengan angka-angka.

Apakah kriteria baik itu ada kaitannya dengan istilah taqwa dalam al-Quran?

Makna taqwa yang dalam terminologi manusia adalah sebutan baik, tentunya mencakup semua potensi kecerdasan, bukan hanya dimaksudkan untuk mengukur salah satu komponen potensi kecerdasan yang disebut tadi. Kecerdasan emosional hanyalah salah satu komponen yang menjadi dimensi pembangunan ketaqwaan. Manusia yang walaupun memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi, tak akan tampak dan menjadi sosok ideal apabila tidak memiliki ukuran kecerdasan penampilan yang tinggi pula, dan tidak pula memiliki ukuran kecerdasan intelektual yang tinggi, apalagi bila tidak menghadirkan ukuran kecerdasan spiritual yang tinggi.

Apakah nilai taqwa dihadapan Allah Swt dibangun oleh seluruh komponen kecerdasan tersebut?

Kiranya dapat dipahami bahwa terminologi taqwa adalah suatu model idealisasi kualitas manusia dihadapan Allah. Setiap model adalah suatu damban atau contoh atau keteladanan yang perlu diikuti dan harus diupayakan untuk dicapai dalam suatu perjuangan hidup. Manusia yang memiliki nilai ketaqwaan tinggi dibadapan Allah adalah manusia yang sosok fisik tubuhnya tegap dan sehat, penampilannya menarik bagi siapapun, sopan, ramah, pendek kata berakhlak al kharimah, pandai, berilmu tinggi, inovatif, kreatif, rajin dan tekun melaksanakan ibadah mahdah dan seterusnya.
Nilai ketaqwaan inilah yang harus diupayakan meningkat terus, setingkat demi setingkat, setinggi mungkin yang dapat kita capai. Secara empirik telah diakui dan telah banyak bukti yang ditemukan bahwa dari semua komponen kecerdasan diatas, penentu kesuksesan terbesar manusia berinteraksi dalam kehidupan adalah kecerdasan emosional. Kesuksesan bergaul manusia, lebih dari 80% ditentukan oleh komponen kecerdasan emosionaInya. Namun demikian, penilaian kualitas manusia dihadapan Allah Swt memiliki bobot tertinggi pada komponen kecerdasan intelektual dibandingkan komponen kecerdasan yang lainnya. Ini berarti kemampuan penguasaan informasi atau lptek merupakan faktor dominan untuk semua komponen kecerdasan manusia.

Menurut Anda, darimana kita harus memulai membangun umat terbaik?

Berawal dari individu-individu yang memiliki tingkat ketaqwaan tinggi akan dengan mudah dibangun khairaan ummah. Dalam kehidupan bermasyarakat dengan model khairaan ummah, setiap kesepakatan, aturan main atau rambu-rambu kehidupan bersama dibangun atas dasar syariah. Ciri masyarakat khairaan ummah seperti disebutkan dalam al-Quran, yaitu: pertama, masyarakat yang ringan tangan, saling bahu membahu (ta’muruna bil ma’ruf); dan kedua, membangun keluarga besar dengan keterbukaan, sehingga tanpa ragu dan canggung mencegah setiap pemikiran, perkataan dan perbuatan yang dapat merusak sendi-sendi nilai islam (tanhaw na anil munkar).

Adakah tingkatan-tingkatan dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran?

Kemampuan mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan kemampuan yang rendah akan menghasilkan kualitas kebaikan masyarakat, atau tingkat kualitas kemungkaran yang dicegah, rendah pula. Makin tinggi tingkat kemampuan, makin tinggi pula kualitas kebaikan yang dihasilkan dan makin tinggi pula kualitas kemungkaran yang dicegah. Komponen yang menentukan kualitas ukuran kemampuan ini adalah ketepatan pemahaman makna kebaikan dan kemunkaran itu sendiri. Dengan lain perkataan, komponen penentu kualitas itu adalah pengetahuan yang melandasi kehidupan serta penafsiran atas syariah yang bersangkutan.

Suparno:

Suparno: