Sabtu, 18 Februari 2012

Sains dan Sunatullah (3)

1. Pengantar

Potongan kerangka fikir dalam wawancara terdahulu disadari sangat memerlukan uraian lebih luas lagi. Oleh karena itu, melalui deretan dan untaian tulisan-tulisan selanjutnya berikut ini. Mudah-mudahan apa yang penulis mampu sajikan dapat menjadi inspirasi dan telaah lanjut, khususnya bagi para pembaca blog atau facebook ini.
Kritik-saran dan tegur-sapa sangat dibutuhkan untuk memperdalam dan mempertajam kerangka fikir ini, khususnya bagi penulis secara pribadi. Atas segala kekurangan dan kesalahannya, setelah penulis sampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang tidak berkenan, maka hanya kepada Allah jualah penulis mohonkan ampunan dan petunjuk Nya.
Billahit taufiq fi sabilil haq.
Wassalamu ‘alaikum w.w.

2. Umat terbaik dibentuk oleh individu-individu terbaik
Ilmu Pengetahuan merupakan kerangka fikir tentang hukum – hukum dalam semesta yang didasarkan pada data-data empirik. Pengembangan ilmu pengetahuan jika dibiarkan tanpa mengikutsertakan peran wahyu dari Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta akan membangun pecahnnya kepribadian (split personality) pada tingkat individual maupun tingkat komunal. Berikut ini disajikan suatu kerangka fikir dasar yang bertolak dari keyakinan bahwa Allahlah yang telah menciptakan alam semesta berserta isinya ini.
Bagaimana kesesuaian faham atau sinkronisasi antara persepsi ilmu pengetahuan empirik dengan keyakinan penciptaan alam semesta ?
Konsep ini bukan suatu pilihan jalan kompromistis, yang mengambil sebagian dari sini dan sebagian lagi dari sana, membuang sebagian dari yang ini atau mencampakkan bagian dari yang lainnya. Konsep pengembangan ilmu pengetahuan secara terpadu ( An integrated Sciences ) merupakan penyajian kebenaran yang terbangun atas dasar akidah Tauhid yang sesuai dengan fakta dan data empirik.
Alam semesta beserta isinya, kita yakini terbentuk melalui suatu proses. Proses yang terrencana dengan baik akan memiliki keadaan awal, ada alasan, ada unsur-unsur yang terlibat dan berperan, ada perubahan, ada tujuan. Dalam ruang kehidupan manusia, proses terjadi dalam suatu selang waktu tertentu. Suatu proses dapat terjadi dalam selang waktu yang sangat cepat, ada yang cepat, dan ada pula yang terjadi lambat, bahkan ada yang sangat lambat. Yang dimaksud dengan “dalam ruang kehidupan manusia” adalah dalam kerangka fikir atau pandangan manusia.
Dalam suatu kerangka fikir tertentu, sering muncul pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Benarkah Tuhan ada ?. Dimanakah Tuhan saat ini ?, Apa pekerjaan Tuhan saat ini ?. Oleh beberapa kalangan, pertanyaan-pertanyaan tersebut sering dianggap kurang ajar, yang dinilai melampaui batas dan tabu untuk dibahas. Beberapa kalangan lain, justru dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak memperoleh jawaban memuaskan tersebut, malah justru mensahkan pandangannya bahwa Tuhan tidak ada. Jawaban pertanyaan tersebut menjadi makin diperlukan kejelasan dan ketepatannya.
Bentuk jawaban – jawaban itulah yang kelak akan menentukan bentuk kualitas dari generasi sesudah kita. Apakah mereka jadi muslim yang taat dan faqih fiddiin (memahami al Islam secara bulat dan utuh), atau sekuler atau bahkan kufar. Mereka makin kritis dan makin menggantungkan pada fakta dan data empirik. Pertanyaan – pertanyaan serupa telah sangat lama, beribu tahun silam disodorkan oleh Nabi Ibrahim a.s dalam mencari kebenaran terhadap keberadaan Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Bagi kita saat ini, pertanyaan yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim a.s, mungkin biasa saja. Bukan hanya kecerdasan yang melandasi munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut; tetapi juga keberanian untuk menemukan dan menunjukkan kebenaran kepada masyarakat itulah yang kemudian Nabi Ibrahim a.s mendapat kehormatan monumental dari Tuhan. Sosok intelektual semacam ini oleh Tuhan direkomendasikan sebagai teladan setiap manusia.
Penataan kerangka fikir yang ingin disampaikan berikut ini bukan sebagai suatu argumen untuk menyatakan bahwa dalam al Qur’an ada, telah tertulis dan tersirat sejak empat belas abad silam. Justru sebaliknya, penulis yakin al Qur’an memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang selanjutnya didukung dengan kemajuan teknologi dan dihiasi oleh estetika, (yang sebagian di dalamnya terdapat nilai seni, bukan semata seni dalam artian yang kemudian berupa interpretasi seni murahan dan dangkal). Ilmu pengetahuan bertindak sebagai petunjuk (guidance), sistem nilai (norma), nasihat ; agar manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya menjadi umat terbaik (khairaan ummah).
Rasulallah, Muhammad s.a.w, adalah nabi penutup. Pernyataan ini bukan sekedar retorika yang harus diteriakkan dan dijadikan selogan semata oleh para pengikutnya. Apakah Allah berbohong dengan Wahyu dan tuntunan Nya ?. Apakah pantas umat islam diberi predikat sebagai umat terbaik sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut :
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk kemanusiaan. (Yang mampu) menyuruh berbuat kebaikan, dan mencegah dari keburukan, dan semata atas keimanan terhadap Allah. Seandainya para ahli kitab beriman, tentulah lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (S:3, al Imran , 110).
Apabila masih ada nabi-nabi lain sesudah Muhammad s.a.w., artinya Allah swt telah melakukan kebohongan publik yang menyatakan bahwa Muhammad s.a.w adalah Rasulal Nya dan sekaligus sebagai Nabi penutup. Pada ayat tersebut diatas Allah menyatakan para pengikut Muhammad s.a.w sebagai umat terbaik. Apabila benar ada nabi yang diutus Allah swt sesudah Muhammad saw, hal ini berarti dalam al Qur’an Allah berbohong, sebab tuntunan serta ajaran yang diturunkan kepada Muhammad saw masih kalah baik dibandingkan dengan para nabi kemudian.
Kalau ada orang-orang yang mengajukan pertanyaan, mengapa umat islam, atau bahkan yang menyatakan sebagai negara islam dimana-mana tak ada yang unggul , dan bahkan cenderung jadi bulan-bulanan ?. Justru sebagai seorang muslim atau yang memangku amanah sebagai tokoh, panutan umat harus mawas diri. Dalam hal ini, nampaknya kita, baik sebagai seorang muslim, maupun sebagai bagian umat islam, belum memahami dengan bulat, secara kaafah nilai-nilai di dalam ajaran yang dititipkan kepada Rasulallah , Muhammad saw.
Pengakuan dan kesadaran ini sangat penting untuk dipahami, agar kita, umat islam, tidak terjerumus dan terperangkap oleh fanatisme. Lebih berbahaya lagi bila kita dihinggapi ketakaburan dalam ketertutupan pandangan saufenistis. Sifat takabur biasanya lahir dari hanya tahu baru sedikit, tetapi merasa sudah tahu semua. Pada sisi lain muncul keinginan agar “dilihat” orang lain sementara keimanan tidak mampu berperan sebagai alat kendali mutu sebagai rakhmatan lil alaamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar