Diunduh dari Tautan Forsmina.wordpress.com
Ketakwaan, Landasan Umat Terbaik
Posted by forsmina pada Maret 18, 2008
Membangun tatanan masyarakat terbaik (khairu ummah) merupakan proyek panjang umat Islam. Hal ini tidak saja karena kualitas sumberdaya umat yang masih rendah, juga karena keragaman budaya, suku, profesi, dan lain-lain yang satu sama lain memiliki kriteria berbeda-beda tentang kebaikan. Namun demikian, nilai-nilai takwa yang banyak disebut dalam al-Quran menjadi landasan utama bangunan umat terbaik. Semangat beramar makruf dan bernahi munkar di kalangan umat beragama merupakan ciri utama umat terbaik. Berikut perbincangan Reporter CMM bersama Dr. Ir. Suparno Satira, peneliti LPPM-UNISBA dan staf Pengajar ITB kepada Tim CMM di Bandung beberapa waktu yang lalu:
Apa sebetulnya hakikat tujuan hukum syariat bagi kehidupan manusia?
Hukum syariat ditujukan bagi hamba Allah agar umat manusia mencapai kualitas peradaban terbaiknya (khairaan ummah) yang dibangun oleh individu – individu berkualitas (taqwa) terbaik. Masyarakat terbaik dibangun oleh manusia-manusia berkualitas terbaik, yang di dalamnya terdapat pemimpin terbaik, pedagang terbaik, pengusaha terbaik, ilmuwan terbaik, guru terbaik, militer terbaik, petani terbaik sampai pada kaum dhuafa pun harus terbaik.
Terminologi terbaik yang disandang oleh setiap kelompok manusia itu tentunya memiliki kriteria tertentu. Bagaimana kriterianya?
Kriteria yang dimaksud inilah yang akan menjadi alat ukur sebutan buruk, sedang, baik dan terbaik. Dalam hukum syariat, yang dimaksud ukuran, adalah tingkatan untuk membedakan manusia ada yang buruk, dan ada yang baik. Namun demikian kelompok ukuran ini tidak hanya dalam dua kelompok, yaitu buruk dan baik saja; sebab di antara buruk dan baik ada seperempat baik, ada setengah baik, ada empat per lima baik dan seterusnya, sebagaimana layaknya kita memiliki nilai-nilai yang sering dinyatakan dengan angka-angka.
Apakah kriteria baik itu ada kaitannya dengan istilah taqwa dalam al-Quran?
Makna taqwa yang dalam terminologi manusia adalah sebutan baik, tentunya mencakup semua potensi kecerdasan, bukan hanya dimaksudkan untuk mengukur salah satu komponen potensi kecerdasan yang disebut tadi. Kecerdasan emosional hanyalah salah satu komponen yang menjadi dimensi pembangunan ketaqwaan. Manusia yang walaupun memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi, tak akan tampak dan menjadi sosok ideal apabila tidak memiliki ukuran kecerdasan penampilan yang tinggi pula, dan tidak pula memiliki ukuran kecerdasan intelektual yang tinggi, apalagi bila tidak menghadirkan ukuran kecerdasan spiritual yang tinggi.
Apakah nilai taqwa dihadapan Allah Swt dibangun oleh seluruh komponen kecerdasan tersebut?
Kiranya dapat dipahami bahwa terminologi taqwa adalah suatu model idealisasi kualitas manusia dihadapan Allah. Setiap model adalah suatu damban atau contoh atau keteladanan yang perlu diikuti dan harus diupayakan untuk dicapai dalam suatu perjuangan hidup. Manusia yang memiliki nilai ketaqwaan tinggi dibadapan Allah adalah manusia yang sosok fisik tubuhnya tegap dan sehat, penampilannya menarik bagi siapapun, sopan, ramah, pendek kata berakhlak al kharimah, pandai, berilmu tinggi, inovatif, kreatif, rajin dan tekun melaksanakan ibadah mahdah dan seterusnya.
Nilai ketaqwaan inilah yang harus diupayakan meningkat terus, setingkat demi setingkat, setinggi mungkin yang dapat kita capai. Secara empirik telah diakui dan telah banyak bukti yang ditemukan bahwa dari semua komponen kecerdasan diatas, penentu kesuksesan terbesar manusia berinteraksi dalam kehidupan adalah kecerdasan emosional. Kesuksesan bergaul manusia, lebih dari 80% ditentukan oleh komponen kecerdasan emosionaInya. Namun demikian, penilaian kualitas manusia dihadapan Allah Swt memiliki bobot tertinggi pada komponen kecerdasan intelektual dibandingkan komponen kecerdasan yang lainnya. Ini berarti kemampuan penguasaan informasi atau lptek merupakan faktor dominan untuk semua komponen kecerdasan manusia.
Menurut Anda, darimana kita harus memulai membangun umat terbaik?
Berawal dari individu-individu yang memiliki tingkat ketaqwaan tinggi akan dengan mudah dibangun khairaan ummah. Dalam kehidupan bermasyarakat dengan model khairaan ummah, setiap kesepakatan, aturan main atau rambu-rambu kehidupan bersama dibangun atas dasar syariah. Ciri masyarakat khairaan ummah seperti disebutkan dalam al-Quran, yaitu: pertama, masyarakat yang ringan tangan, saling bahu membahu (ta’muruna bil ma’ruf); dan kedua, membangun keluarga besar dengan keterbukaan, sehingga tanpa ragu dan canggung mencegah setiap pemikiran, perkataan dan perbuatan yang dapat merusak sendi-sendi nilai islam (tanhaw na anil munkar).
Adakah tingkatan-tingkatan dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran?
Kemampuan mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan kemampuan yang rendah akan menghasilkan kualitas kebaikan masyarakat, atau tingkat kualitas kemungkaran yang dicegah, rendah pula. Makin tinggi tingkat kemampuan, makin tinggi pula kualitas kebaikan yang dihasilkan dan makin tinggi pula kualitas kemungkaran yang dicegah. Komponen yang menentukan kualitas ukuran kemampuan ini adalah ketepatan pemahaman makna kebaikan dan kemunkaran itu sendiri. Dengan lain perkataan, komponen penentu kualitas itu adalah pengetahuan yang melandasi kehidupan serta penafsiran atas syariah yang bersangkutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar