Sabtu, 11 Mei 2013

7. Al Qur’an tentang Alam Semesta



Pola fikir manusia dengan data-data hasil pengamatannya mencoba merumuskan tentang bagaimana proses penciptaan alam semesta terjadi. Diantara berbagai model dan teori yang dikemukakan, salah satu diantaranya ada yang merumuskan berupa “Peristiwa” ledakan dahsyat (“Big Bang”). Teori Big Bang menggambarkan bahwa alam semesta dilahirkan melalui suatu ledakan dari sesuatu yang sangat massif / padat. Semua dari sesuatu yang masif ini terlempar menjauhi titik awal ledakkan, sebagaimana layaknya semua materi yang terlempar dari sebuah petasan yang meledak.
Mengapa masih ada yang tidak mengakui sama sekali atau hanya sebagian yang diakuinya dari perumusan pola fikir ini ?.
Polemik tentang penciptaan alam semesta muncul bukan sekedar pada peristiwa ledakannya semata. Pengkajian peristiwa ini berkembang pada berbagai sifat dan perilaku yang terkait di dalamnya; antara lain tentang pemahaman konsep ruang dan waktu, proses kelahiran benda-benda langit, termasuk bumi, matahari, serta berbagai proses lain yang menyertainya.
Fakta nyata yang telah diketahui adalah dalam alam semesta terdapat benda-benda langit yang tak terhitung jumlahnya. Bumi tempat kita tinggal berupa bola yang berdiameter sekitar 12.725 Km, hanya sekitar seperseratus dari besarnya matahari. Jarak antara bumi dan matahari dihitung oleh para ahli sebesar 149.600.000 km ditempuh oleh cahaya hanya dalam waktu sekitar 8 menit dan 15 detik saja. Dapat dikatakan bumi laksana sebutir debu melayang di udara. Matahari dalam ilmu Astronomi disebut sebagai salah satu keluarga bintang yang bertaburan dan berkelompok-kelompok di dalam alam semesta.
Kelompok bintang-bintang yang berdekatan membentuk rasi bintang.  Kelompok-kelompok bintang berada dalam suatu kumpulan yang disebut galaksi, tak terhitung banyaknya galaksi-galaksi.  Ditaksir, di alam semesta terdapat sekitar 10.000.000.000 galaksi.  Galaksi tempat bumi berada dinamai Bimasakti.  Orang memperkirakan dalam Galaksi - Bimasakti ini terdapat tak kurang dari 100.000.000.000 buah bintang. Atas dasar pengetahuan ini, dapatkah dibayangkan berapa buah bintang yang ada di seluruh alam semesta ini ?.  
Gambaran ruang, atau seberapa besar alam semesta ini, mari kita tata dalam ukuran tubuh kita. Tinggi tubuh kita sekitar 2 m, dan langkah kita sekitar 60 cm = 0,6 m. Pulau Jawa yang panjangnya sekitar 1.000 km = 1.000.000 m, ditempuh perjalanan darat naik kereta api sekitar 12 jam, melelahkan sekali. Jarak ini bila ditempuh oleh pesawat terbang paling cepat sekitar 1 jam perjalanan. Bayangkan, panjang jarak pulau Jawa hanya ditempuh cahaya hanya sekitar 0,003 detik saja. Jarak yang ditempuh oleh perjalanan cahaya sering dipakai sebagai satuan jarak dalam alam semesta yang demikian jauhnya, sehingga satuan yang dipakai dalam sebutan Tahun Cahaya, yaitu jarak yang ditempuh cahaya selama setahun.
Satu detik, cahaya menempuh jarak 300.000.000 meter. Artinya, dalam satu detik saja cahaya dapat menempuh perjalanan lebih dari 100 kali pulang pergi dari ujung barat sampai ujung timur Negara Indonesia.  Padahal kemampuan tercepat manusia terbang dengan pesawat komersial masih di bawah 350 meter per detiknya ; atau untuk menempuh dari ujung ke ujung negara Indonesia saja masih diperlukan seperempat hari.
Apabila dinyatakan dalam satuan ukuran Kilo meter (Km) atau Ribuan meter, jarak satu Tahun Cahaya adalah sekitar 9.500.000.000.000 Km. Para ahli telah memberikan data bahwa bintang Alfa Centauri, sebagai bintang terdekat dengan Matahari, berjarak sekitar 4,3 Tahun Cahaya.  Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa luas banyak diantaranya yang berjarak jutaan Tahun Cahaya dari sistim tatasurya ini.
Konsep teori Big Bang mengarahkan kita pada suatu kerangka fikiran bahwa galaksi-galaksi tersebut bergerak menjauhi "titik awal ledakan" (yaitu "tempat" saat pertama alam semesta diciptakan). Kecepatan gerak seluruh “material” alam semesta   ini sangat tinggi, karena bergerak di dalam ruang hampa dan tanpa pengaruh berarti dari material lainnya; hingga bintang-bintang bergerak menjauhi titik awal ledakan mencapai kecepatan sebesar 100.000 km per detiknya.  Dengan demikian, dapat disimpulkan perilaku alam semesta ini dalam ukuran atau bentuknya laksana sebuah balon yang ditiup dan membesar secara terus-menerus dengan jari-jarinya setiap detik bertambah besar 100.000 km.
Dari pemahaman model tentang alam semesta yang terus berkembang / membesar ini saja menunjukkan betapa kecil ukuran dan kemampuan manusia untuk menjangkau luasnya ruang alam semesta. Secara fisik, setidaknya sampai saat ini, tak ada kendaraan yang mampu dibuat agar dapat menjangkau tepi alam semesta. Besarnya alam semesta yang tak terbayangkan oleh keterbatasan manusia menjadi model saintifik hingga saat ini belum ada yang menyangkal keabsahannya. 
Sebagaimana dituliskan pada bagian awal tulisan ini, memang masih ada sebagian ilmuwan yang meragukan tentang teori Big Bang. Sebagai seorang muslim perlu dilihat referensi yang kita yakini dan tak pernah diragukan lagi keabsahannya, yaitu al Qur’an. Dengan symbol kata yang dekat terhadap substansi pembahasan ini, bagaimanakah al Qur’an menjelaskan tentang alam semesta ini ?. Setidaknya beberapa ayat yang dapat dinukilkan dari al Qur’an menyatakan beberapa hal berikut :
 Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang, dan dijadikan padanya matahari yang bersinar dan bulan bercahaya “.  ( al Furqan , 61 )
 Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi (alam semesta) itu sebelumnya keduanya adalah satu yang padat, kemudian Kami cerai-beraikan antara keduanya.” (al Anbiya , 30 )
“Dan langit Aku bangun dengan kekuasaan Ku, dan Aku meluaskannya “( adz Dzariyat,47 )
“Mampukah kamu menandingi penciptaan alam semesta dengan langit dan strukturnya. Ia (Allah ) kembangkan terus dengan seluruh gejalanya . (an Nazi’at , 27 – 28 )
“Apakah mereka tak melihat awan, bagaimana diciptakan; dan langit, bagaimana ditinggikan ? “. (al Ghasyiyah , 17 , 18 )
Makna kata-kata “dicerai-beraikan”,  meluaskan”, “dikembangkan”, dan “ditinggikan  dalam orientasi arah ruang memiliki kesamaan arti sebagaimana terjadinya suatu peristiwa ledakan (misalnya mercon, petasan). Setiap material yang terlibat dalam suatu ledakan akan menjauhi titik awal ledakan. Dalam ruang terbuka, tanpa adanya penghalang maka arah gerak yang ditempuh material dimungkinkan ke semua arah dalam ruang; yaitu arah atas, bawah, depan, belakang, samping kiri, samping kanan, atau secara awam dapat dinyatakan dalam sebutan delapan penjuru.  Jarak yang ditempuh seluruh materi yang bergerak membangun suatu ruang. Memang jarak tempuh setiap material yang terlempar oleh suatu ledakan belum tentu sama. Apabila material yang terlempar ke semua arah serba sama, atau homogen, secara ideal ruang yang berbentuk ruang bola.
Pada ayat-ayat lain dinyatakan konsep tentang waktu dari proses pembentukan alam semesta, yang antara lain :
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa ; kemudia Dia bersemayam diatas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kesana. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada . Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al Hadiid, S 57 , ayat 4).
Dari pemahaman ilmu pengetahuan, pengertian enam masa adalah proses pembentukan alam semesta yang diperkirakan berupa tahap-tahap berikut :
1.      Tahap Lamda Cold Dark Matter (Lamda-CDM), yaitu sejak awal ledakan yang menghamburkan quark-quark sebagai bahan baku alam semesta. Usia “Debu quark” ini diperkirakan sampai sampai 10-12 detik sesudah ledakan. Pada masa ini diperkirakan sudah muncul keluarga “Lepton” yang terdiri dari electron-elektron dan neutrino.
2.      Tahap Hadron , yaitu massa penyatuan sebagian quark berupa pembentukan antara lain proton dan netron sebagai bahan awal inti atom. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai 10-6 detik.
3.      Tahap pengelompokan proton dan netron menuju keadaan stabil sebagai cikal bakal inti atom. Proses ini diperkirakan berlangsung mulai usia beberapa detik sampai 350.000 tahunan.
4.      Tahap rekombinasi atau penggabungan proton, netron dan electron, serta munculnya photon (cahaya) pembentukan atom-atom sederhana seperti, Hidrogen, Helium, Lithium, dan Berilium dari inti-inti yang berserikat dengan electron-elektron. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai usia 300 juta tahunan . Sampai dengan tahap 4 ini alam semesta masih berupa “kabut” homogen, sehingga bentuknya disebut sebagai gelembung univers, dan masa ini disebut sebagai masa gelap.
5.      Tahap berikutnya kabut-kabut yang ada bergerombol membentuk kesatuan-kesatuan super raksasa kabut sebagai cikal bakal galaksi-galaksi. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai usia alam semesta mencapai 480 juta tahunan.
6.      Dalam setiap kelompok kabut galaksi lahirlah bentuk-bentuk semi padat yang dikenal saat ini sebagai bintang-bintang. Sekaligus melahirkan benda-benda langit lainnya seperti planet-planetnya. Dalam system tata surya kita muncul calon-calon planet antara lain Merkurius, Venus, Mars, Saturnus , Uranus, dan juga bumi. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai usia alam semesta mencapai 750 juta tahunan.
Sudah barang tentu alam semesta sampai usia 750 juta tahun, bumi belum terbentuk padat sebagai benda langit yang padat berpenghuni. Setelah usia sekitar 14,7 miliar tahunan diperkirakan bumi baru dihuni mahluk hidup.
Sesuai dengan pemahaman tentang bentuk ruang yang tergambar dari konsep ini , apakah Arsy merupakan suatu tempat , sebagaimana kita tinggal pada suatu rumah di daerah tertentu di muka bumi ini ? Mengingat usia alam semesta yang diperkirakan telah mencapai miliaran tahun dan selama itu pula ruang alam semesta berkembang dengan laju mendekati kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km/det; pada jarak berapa tepi terjauh alam semesta saat ini ?

Kamis, 09 Mei 2013

6. Al Qur’an tentang Ilmu Pengetahuan



Hipotesa, dalam pengertian umum dapat didekatkan dengan istilah persepsi, bayangan atau angan seseorang. Persepsi manusia yang beraneka ragam dapat diibaratkan sebagai kumpulan potongan gambar / puzzle yang terserak dihadapan mata. Potongan-potongan gambar tersebut, apabila disusun akan menghasilkan gambar bermacam-macam pula. Gambar yang terbentuk dari susunan potongan-potongan yang sama dapat menghasilkan gambar berbeda. Akibat persepsi yang berbeda maka akan terdapat sekian banyak pola gambar.
Gambar mana yang benar telah dibangun oleh pembuat potongan-potongan itu ?
Jawaban sederhana dari pertanyaan ini tentu adalah Pembuat gambar itulah yang paling tepat mengetahui bagaimana pola gambar sesungguhnya. Titik awal dari kerangka fikir yang menjadi keyakinan bahwa gambar tersebut ada yang membuat menjadi dasar utama. Apabila tidak ada keyakinan bahwa pola gambar ada yang membuat, maka semua kesimpulan akan menyebar (divergen) kemana-mana. Setiap persepsi akan menyatakan bentuk gambar sendiri-sendiri, yang belum tentu sama bahkan dapat bertentangan satu dengan lainnya.
Perumpamaan ini dapat dianalogikan sebagai pola fikir dalam memahami alam semesta, sifat-perilaku kehidupan yang ada di dalamnya dan Sang Maha Pencipta. Seringkali pembuat teka-teki dari potongan-potongan gambar tak bersedia menunjukkan gambar apa sesungguhnya yang dibuatnya; namun bagi Allah swt sebagai Maha Pencipta yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah memberikan petunjuk ke arah pemahaman yang utuh. Hanya saja, karena misteri yang telah dibuat Nya demikian tak berbatas, maka jawaban misteri akan baru tuntas terjawab pada ujung perjalan pengembangan peradaban manusia itu sendiri.
Suatu kerangka fikir yang sampai saat ini dipandang sebagai satu system yang ajeg (steady), taat asas (consistent), dan berkesinambungan (sustainable), adalah ilmu pengetahuan (sciences). Sistem ini diakui telah dibangun oleh landasan ilmiah (scientific base), dengan sifat-sifat ilmiah (scientific behavior), cara atau metoda ilmiah (scientific method), dan terbukti mampu membentuk sikap atau pribadi ilmiah (scientific attitude). Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap ilmiah menjadi norma dasar dalam system nilai masyarakat ilmiah, yang sering pula disebut sebagai knowledge based society. Meskipun diakui bahwa system nilai dalam masyarakat ilmiah hanyalah sebagai bagian dari pengembangan peradaban umat manusia secara keseluruhan. Terdapat unsur atau bagian lain yang juga sangat kuat membangun peradaban, seperti unsur kebudayaan, tradisi yang kadang kala bertolak belakang dengan nilai-nilai masyarakat ilmiah.
Kenyataan dan perjalanan sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa system nilai yang dianut dan dikembangkan dalam masyarakat ilmiah adalah sebagai system nilai terunggul. Apabila unsur-unsur lain yang berkembang dan memperlihatkan nilai keunggulan hanya pada satu wilayah atau bagian dari suatu masyarakat saja; tidak demikian halnya pada nilai keunggulan sifat ilmiah, terus berkembang dan unggul di seluruh permukaan bumi. Kebudayaan Romawi unggul hanya di daratan Eropah, bahkan hanya bagian selatan dan barat saja; kebudayaan Mesir Kuno hanya unggul di Afrika bagian utara saja; kebudayaan Cina hanya unggul di sebagian benua Asia saja; dan seterusnya. Demikian pula keunggulan yang dibangun oleh unsur-unsur budaya ini suatu saat akan mencapai titik kulminasi yang kemudian merosot redup seiring perjalanan waktu; namun keadaan sebaliknya pada keunggulan sains dengan produk riilnya yang disebut teknik dan teknologi, terus naik dan akan makin terus naik. Meskipun pada saat-saat tertentu memang pernah mengalami pasang surut, namun tetap sains-tek yang ada sekarang pada hakekatnya adalah kelanjutan dari sains-tek yang muncul sejak awal.
Bagaimana islam menuntun menuju pribadi unggul sebagai ulil albaab, dan masyarakat terunggul sebagai khairun ummah ?
Bertitik tolak dari paradigm (system nilai) yang diungkap tersebut dapat kiranya ditelusuri, baik dari sisi historis (sirah nabawiyah), sifat dan makna ibadah ritual, sifat dan kandungan muammalah (interaksi dengan masyarakat), maupun sifat dan sikap Tauhidullah (Pengesaan terhadap Allah).
Islam menomorsatukan ilmu pengetahuan, sehingga 4 wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw seluruhnya tentang ilmu pengetahuan; bukan tentang kehidupan lainnya.
Wahyu pertama : al Alaaq ( S 96, ayat 1 s/d 5), khusus ayat 3 s/d 5 perintah tentang belajar dengan proses yang benar, dan yang dipelajari adalah ilmu yang dibuat oleh Allah swt. Sebab ada ilmu yang disusun oleh iblis yang akan menjerumuskan manusia.
Wahyu kedua : al Qalaam (S 68, ayat 1 s/d 8 ) , yang mendeskripsikan arti dan peran ilmu pengetahuan. Diingatkan tentang tantangan dan ujian serta perlawanan iblis yang akan menyesatkan baik makna, peran maupun objek ilmu pengetahuan itu sendiri.
Wahyu ketiga : al Muzzamil ( S 73, ayat 1 s/d 5 ), yang memerintahkan melakukan pengkajian, penelitian sebagai bentuk pengembangan ilmu pengetahuan. Wahyu ketiga ini mengandung makna perlunya pengurbanan. Di saat yang lain istirahat dan tidur nyenyak kita ditantang untuk bangun dan menggali makna-makna (hikmah) dalam kehidupan. Yang akan dicapaipun bukanlah sesuatu yang ringan.  Inna sanulqii ‘alayka qawlan syaqiilan”.
Wahyu keempat : al Muddatsir (S 74 , ayat 1 s/d 7 ), yang memerintahkan untuk membagikan ilmu pengetahuan; bahkan dalam ayat lainnya ditegaskan pula meskipun kita baru tahu sedikit (satu ayat). Tujuan dari ilmu pengetahuan ini adalah semata-mata untuk meningkatkan kualitas pengabdian dan demi Keagungan Allah swt. Sehingga perlu diingatkan pula agar membersihkan diri dan tidak tergoda oleh tujuan lainnya.
Pada ayat lain (al Mujadalah , S 58 , ayat 11) betapa senang Allah swt kepada manusia yang haus pada ilmu pengetahuan, sehingga Allah swt tak segan-segan memberikan penghargaan / reward kepada mereka, berupa kenaikan tingkat beberapa derajat. Penghargaan dan imbalan dari Allah swt terhadap manusia yang memiliki ilmu pengetahuan tidak saja berupa kedudukan atau tingkat yang lebih tinggi; akan tetapi ditetapkan Nya pula bahwa ilmu pengetahuan sebagai asset yang dapat didepositokan berupa asset jariyah apabila dikerjakan dalam bentuk penyebaran atau pengajaran. Bunga deposito ini abadi dan akan dapat diperoleh tidak hanya sepanjang hidup, tetapi terus mengalir, meskipun manusia tersebut telah meninggal dunia. Manusia yang paling beruntung sepanjang sejarah kemanusiaan, setelah Nabi Muhammad saw, adalah Nabi Ibrahim a.s. Karena pengembangan diri dan potensi keilmuannya, Allah swt menganugerahkan penghargaan monumental dengan pahala yang terus mengalir sampai akhir zaman, melalui pengajuan salawat setiap muslimin yang mengerjakan shalat.
Ilmu pengetahuan sebagai senjata handalan maha ampuh manusia sehingga menjadikan manusia menjadi mahluk paling unggul diantara seluruh makhluk ciptaan Nya, telah disuratkan dalam surat al Baqarah ( S 2, ayat 30 s/d 36). Dalam tafsiran dari ayat-ayat ini yang dimaksud “al asma’a kullaha” adalah symbol-simbol yang menjadi inti ilmu pengetahuan.
Pada ayat lain (al Imran , S 3, ayat 110), umat islam mendapat anugerah penghargaan sebagai umat terbaik memiliki ciri 3 hal yaitu : berkemampuan mengajak pada segala sesuatu yang baik, mencegah segala sesuatu yang buruk atau berdampak buruk , dan meyakini akan Keesaan dan Kekuasaan Allah swt. Semua ciri atau identitas tersebut hanya mungkin terwujud dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ukuran baik dan buruk yang paling akurat dan bijak bila didasarkan pada norma-norma saintifik. Ukuran baik dan buruk akan sangat membahayakan dirinya, dan lingkungannya; sekarang bahkan sangat mungkin pada masa yang akan datang apabila digunakan alat ukur emosional atau kira-kira, menurut perasaan. 
Pertanyaan berikut mungkin akan muncul, mengapa umat islam dinyatakan sebagai umat terbaik. Apakah umat terdahulu belum diberi ilmu pengetahuan ? . Ataukah ilmu pengetahuan yang benar hanya yang diturunkan sesudah umat Muhammad saw ?
Beberapa kerangka fikir logis dapat dikemukakan sebagai berikut :
Pertama, umat terdahulu belum memperlakukan ilmu pengetahuan dengan sifat terbuka. Ilmu pengetahuan dikuasai oleh para “Penguasa’, baik dari kalangan Penguasa , maupun para pemuka agama yang berkolaborasi dengan Penguasa; dan digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Kedua, umat terdahulu belum memiliki dasar-dasar saintifik, konsep hipotesa, lemma , teorema belum tersusun dengan ajeg dan terstruktur secara sistematis. Berbagai temuan, fakta, dan perumusan masih bersifat centang-perenang laksana potongan-potongan informasi (puzzle pengetahuan). Ketiga, barangkali sebagai hipotesa penulis, sejak diturunkan wahyu, dan mengangkat Muhammad saw sebagai Rasul Nya dan merupakan Rasul penutup, artinya umat manusia telah mampu disapih. Dengan ilmu pengetahuan, Allah swt memandang manusia telah mampu mandiri untuk menemukan dang menempuh jalan yang seharusnya menggapai keridhoan Allah swt. Andai umat manusia tidak menemukan jalan itu dan tersesat, artinya tidak lagi mengacu pada al Qur’an dan sunah Rasul, maka terjadilah Qiyamat Kubra; sebab sejak Rasulallah wafat tak akan pernah ada lagi Utusan Nya.

Selasa, 07 Mei 2013

5. Does God exist ?



Pertanyaan yang dipakai sebagai judul tulisan diatas, popular bukan karena tulisan Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow (2010) semata. Kalimat ini sempat juga populer karena pertanyaan Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis (1827) terhadap Pierre-Simon Laplace. Makna dari judul tersebut terlontar berulang-ulang dalam sejarah kemanusiaan. Dapat dikatakan sudah ada sejak manusia hadir di Bumi ini. Nabi Adam a.s dan ibu Hawa dikeluarkan dari Surga, serta hikayat Kabil dan Habil yang menunjukkan awal manusia terperdaya iblis untuk melupakan keberadaan Allah swt. Cerita para Nabi membuktikan, bagaimana nabi Ibrahim a.s yang telah memperingatkan penguasa Namrud, atau nabi Musa a.s yang memperingatkan Fir’aun, nabi Isa a.s yang telah memperingatkan kaisar Romawi, nabi Muhammad s.a.w yang telah memperingatkan masyarakat jahiliyah Arab. Semua itu menunjukkan bukti sejarah perjalanan kemanusiaan yang telah mengabaikan keberadaan dan Mahaperan Allah swt.
Mengapa peringatan-peringatan itu diperlukan ?
Peran peringatan-peringatan yang ada tidak semata sebagai proses evaluasi untuk mengukur kualitas / nilai kemanusian yang ada pada saat itu; namun juga berperan sebagai petunjuk arah (guidance of values) bagi perkembangan-perkembangan selanjutnya.
Pertanyaan ini diangkat karena belakangan ini kembali hangat dibicarakan dengan adanya  tulisan-tulisan Stephen Hawking. Sebagai seorang saintis / ilmuwan yang dikenal di seantero bumi, buku-bukunya telah menggugah tidak saja ranah akal, tetapi juga menyentuh emosional dan ranah keyakinan. Terutama sekali buku Stephen Hawking yang mengungkapkan teori yang sangat filosofis, yaitu “Model-Dependent Realism”. Konsep teori tentang keilmualaman yang sangat mendasar, dipandang banyak pihak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan semua persoalan, termasuk tentang keyakinan ada atau tidak adanya Tuhan.
Lupa terhadap keberadaan Allah swt merupakan awal dari pengingkaran terhadap keberadaan Nya. Lupa sebagai lawan kata ingat, adalah tersembunyinya data dalam simpul syaraf otak yang tertumpuk mengendap di bawah sadar. Apabila tidak diangkat ke atas permukaan ingatan, dia akan bertambah dalam tertimbun berbagai ingatan dan kebiasaan lainnya.  Pada akhirnya akan makin sulit diangkat ke alam sadar yang menjadi keyakinan dan pola fikir serta pola tindaknya.
Mengangkat kembali ingatan ke atas permukaan kesadaran, terlebih lagi yang menjadi landasan keyakinan tidaklah mudah. Persoalan ini tidaklah sama dengan mengangkat barang yang tertimbun barang lainnya di bagian bawah gudang. Kegiatan yang harus dilakukan tidak cukup hanya dengan memindahkan ingatan-ingatan yang menindihnya, bahkan harus membuangnya jauh-jauh agar tidak menggangu proses pengingatan kembali keyakinan ini.
Stephen Hawking dalam teorinya menyatakan bahwa bagaimana keyakinan seseorang (hasil pemikiran) bergantung pada persepsi (hipotesa) yang dianutnya. Contoh sederhananya, kalau orang tersebut mempunyai hipotesa bahwa matahari mengelilingi bumi, maka itulah kenyataan yang ada sebagaimana yang dilihat dan dirasakan dalam hidupnya. Demikian pula sebaliknya apabila dia memegang hipotesa bahwa bumi yang mengelilingi matahari, maka itulah kenyataan dan pola hidup yang akan dijalaninya.
Penerapan dalam pemahaman keberadaan alam semesta, Hawking dan Mlodinow mengakui adanya hipotesa tentang alam semesta lain yang parallel dengan alam semesta yang dihuni ini. Alam semesta lain yang banyak disebut sebagai alam metafisik, parallel di luar alam semesta factual ini, tentunya hadir karena adanya hipotesa yang mendasari keberadaannya. Teori ini nampaknya berhenti sampai disini sehingga melahirkan kontroversi gagasan tentang keberadaan alam semesta, yang tentu saja bersama isinya. Karena landasan adanya alam semesta berkaitan erat dengan pertanyaan adakah Tuhan diantara kita, maka jawaban Hawking dan Mlodinow identik dengan jawaban Laplace terhadap pertanyaan Napoleon. Jawaban mereka adalah tergantung hipotesa yang anda pegang, ada atau tidak adanya alam metafisik, ada atau tidak adanya Tuhan tergantung hipotesa mana yang anda pegang.
Jawaban ini sesungguhnya sama saja dengan tidak memberikan jawaban yang tegas, jawaban yang tidak mengubah konsep yang ada; jawaban dari ilmuwan yang ragu-ragu dalam kebijakan / kearifan ilmunya. Suatu sikap yang mengandung nilai permisifistis, ragu-ragu sehingga tidak tegas dalam membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Sikap ini terurai dalam sikap-sikap berikut, yaitu : suatu sikap bijaksana dalam ketidakbijakan menyatakan yang benar, sikap parsialistis dalam suatu keterpaduan. (integralitas), dan sikap eksklusifistis (menyendiri) dalam suatu keutuhan (holistis), sikap kebimbangan (dikhotomistik) dalam ketaat-asasan , atau keajegan (consistency) ; yang semua itu merupakan sikap mendua (split personality).
Sudut pandang lain, sikap ini dapat menjadi pembenaran adanya paham Polytheistis (banyak Tuhan). Meskipun sudut pandang ini banyak dituduhkan sebagai perluasan yang ekstrim dari prinsip atau kaidah ilmiah, namun pandangan ini perlu dipertimbangkan sebagai suatu pola fikir yang tidak mustahil dianut banyak orang. 
Suatu berita menggembirakan dari sisi pencerahan teori Hawking, adanya tulisan dari Lê Nguyên Hoang, Bidang Applied Maths pada Polytechnique of Montreal.Engineer di Ecole Polytechnique, Perancis; yang menyatakan bahwa sesungguhnya pada suatu keadaan dimungkinkan terdapat banyak hipotesa. Pada pembahasan Hawking, tiap hipotesa melahirkan alam semesta (Universe); sehingga sesuai pemahaman Nguyen Hoang ada banyak alam semesta (multiverse) yang paralel. Karena yang ditinjau sama sebagai satu kehidupan, maka semua multiverse ini memiliki satu sumber. Sesungguhnya semua hipotesa tersebut pada akhirnya bermuara pada satu kebenaran. Konsep ini, memang tidak secara eksplisit menyatakan keberadaan Tuhan yang Esa secara utuh, setidaknya dapat diikuti sebagai landasan keimanan dalam menelusuri aspek empiric, atau bukti-bukti ilmu pengetahuan.
Kebenaran yang satu menjadi suatu rujukan ditengah berbagai nilai kerelatifan / kenisbian yang berkecamuk dalam kehidupan telah diakui keberadaannya; setidaknya oleh seorang ilmuwan. Sesungguhnya secara langsung maupun tidak langsung, Albert Einstein, seorang ilmuwan Yahudi, yang dipandang sebagai bapak revolusi ilmu pengetahuan melalui konsep / teori relativitasnya telah membuka wawasan dengan “Theory for everythings”nya. Teorinya yang menyatakan bahwa seluruh interaksi atau keberadaan sesuatu dimulai dari satu. Konsep ini yang kemudian melahirkan suatu konsep kelahiran alam semesta dengan sebutan “ The Big Bang Theory” ( Konsep Ledakan Dahsyat).
Suatu lukisan yang indah, tidak cukup indah bila hanya dipandang sekilas. Lukisan tersebut akan memiliki makna keindahan lebih lengkap, manakala diperhatikan lebih rinci / detail. Detail yang dimaksud dapat berupa bagian dari lukisan keseluruhan, seperti memandang lukisan Monalisa dilihat bagian tangannya, bagian matanya , bagian pakaiannya dan lain sebagainya. Detail lain dapat berbentuk pengerjaan atau prosesnya, seperti : tingkat kehalusan pekerjaan, tingkat kesulitan pengerjaan, bahan yang dipakai,  warna, akurasi, dan lain sebagainya. Dalam keterkaitannya disini, “Theory The Big Bang” tidak cukup diketahui sebagai suatu bentuk peristiwa ledakan maha dahsyat semata, akan lebih memberikan makna dan manfaat yang jauh lebih besar apabila diketahui lebih rinci dalam berbagai sifat dan perilaku yang mengiringinya.
“Theory The Big Bang” merupakan awal dan proses-proses selanjutnya dalam pembentukan alam semesta, termasuk di dalamnya terdapat manusia dengan proses dan perkembangan peradaban yang dibangunnya. Sesuai dengan hukum alam / Sunatullah, setiap proses yang dimaksud disini, bukan semata diartikan sebagai proses kelahiran yang diikuti pertumbuh-kembangan secara fisik, dan selanjutnya setelah mencapai titik kulminasi atau titik potensi tertinggi akan menurun dan diakhiri oleh kematian atau kehancuran semata; namun di dalamnya terdapat proses-proses yang bersifat normatif dari sisi emosional, moral dan keyakinan. Selain dari itu, meskipun bagian objek dan subjek yang terlibat dalam berbagai proses telah tiada, namun seluruh proses akan terus bergulir, yang dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Memahami apa dan mengapa semua berproses di dalam alam semesta, secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk pola fikir dan kesadaran atas keberadaan dan peran apa yang seharusnya dilaksanakan. Pemahaman yang utuh / kaffaah tentang teori ini sekaligus dapat membangun pribadi-pribadi muslim kaffah, masyarakat dan umat yang utuh (integrated) dan menyeluruh (holistic).
Sesuai konsep dan kerangka nilai yang dianut dalam rangkaian tulisan ini, pada bagian-bagian tulisan berikutnya akan dilihat pula sesuai dengan referensi yang telah ada.

Acuan :
·         http://www.science4all.org/members/le-nguyen-hoang, January 27th, 2013