Diunduh dari laman : renny.student.umm.ac.id/sains-dan-sunnatullah/umm, dengan judul : Sains dan Sunnatullah , dan dipasang kembali dalam rangka tindak lanjut pembentukan kerangka fikir sain terpadu .
Sains dapat menyingkap berbagai tirai sunatullah. Melalui pembuktian itu, rahasia alam yang sebelumnya diragukan kebenaran menjadi “benar”. Artinya, sains telah mengantarkan manusia memahami kehendak Allah secara tepat dan benar. Tirai yang telah tersingkap ini belum tentu sepenuhnya menjadi kebenaran mutlak dan memberi peluang bagi penelitian lanjutan untuk membantah temuan tersebut. Penuturan Suparno Satira dari LPPM-UNISBA kepada Tim CMM, di Bandung beberapa waktu yang lalu. Inilah petikannya:
Bagaimana hubungan antara kehendak Allah, Sunatullah, dan Sains?
Hukum syariah merupakan kodifikasi dari kehendak Allah Swt melalui Rasulallah Saw untuk menuntun pengembangan peradaban umat manusia. Peradaban yang terus berkembang menyiratkan bahwa kehendak Allah Swt tidak mungkin seluruhnya disampaikan secara gamblang melalui RasuI-Nya. Apa yang tersurat dalam wahyu dan diuraikan lebih lanjut melalui sunah RasuI-Nya masih memerlukan penafsiran dan kodifikasi lebih lanjut. Di lain pihak, kehendak Allah Swt tidak mungkin seluruhnya diuraikan dalam format hukum syariah. Lebih rinci dan lebih aktual kehendak Allah Swt diwujudkan melalui hukum-hukum Allah di alam semesta ini, atau yang lebih populer disebut sebagai Sunatullah. Penafsiran dari Sunatullah inilah yang sebagian diantaranya diungkapkan dalam wilayah yang sering disebut Sains.
Apa alasan yang menyebabkan sebagian dari Sunatullah saja yang berhasil diungkap oleh Sains?
Kodrat manusia yang diciptakan dengan segala keterbatasan menutup potensi pengembangan manusia dalam mendeteksi, mengetahui dan memikirkan segala sesuatu yang ada dan terjadi dialam ini. Keterbatasan dalam cakupan dimensi ruang, dimensi waktu maupun dimensi lainnya, seperti pengembangan sel dan lain sebagainya. Kemampuan manusia yang dibatasi Allah inilah yang membuat Sunatullah hanya sebagian saja yang terungkap melalui sains. Dilihat dari kemampuan individual, secara fisik menghadapi tantangan keterbatasan pula. Dewasa ini, di seluruh muka bumi ini, diperkirakan setiap hari diluncurkan atau dihasilkan tidak kurang dari 100.000 buah artikel atau sumber informasi dari seluruh bidang. Melihat angka ini, rasanya tak mungkin ada seseorang yang mampu menyerap dan mengikuti perkembangan informasi secara menyeluruh.
Apakah sunatullah yang terungkap sebagiannya saja itu berkaitan dengan keterbatasan kemampuan manusia?
Sosok sunatullah yang didominasi oleh fakta-fakta empirik, hanya yang terkesan, terasa, terlihat oleh indera dan kepanjangannya dalam bentuk alat ukur. Kemampuan manusia dengan menggunakan kepanjangan potensi alat ukur inipun oleh Allah swt, secara konseptual diakui para saintis adanya batas nilai tertentu. Batas nilai ini telah lama diungkapkan sebagai batas toleransi yang sanggup dicapai manusia.
Keterbatasan, sebagai kodrat dari makhluk Allah, mengakibatkan bahwa tak mungkin seluruh sunatullah diungkap oleh pengetahuan sains. Di luar wilayah pengetahuan sains masih terdapat wilayah sunatullah yang sangat luas. Secara normatif, hukum-hukum syariah telah memberikan isyarat adanya sunatullah yang perlu dikaji dan diungkapkan oleh Iptek secara tuntas. Masih sangat banyak terminologi syariah yang termuat dalam al-Quran yang perlu diungkap oleh sains. Sebutlah antara lain misalnya: haramnya darah, khamar, dalam menyikapi bersuci, berwudlu, qadar dan takdir; dan berbagai masalah khilafiyah lainnya yang hadir dalam kehidupan. Di samping ketentuan syariah yang diungkapkan tersebut di atas, masih banyak pula tantangan terhadap sains untuk menguak tabir sunatullah agar mampu memberikan penjelasan terhadap keberlakuan hukum syariah lebih tinggi kualitasnya. Sebutlah sebagai contohnya masalah yang berkaitan dengan bidang penelitian kedokteran yang menyerempet rekayasa genetika, dalam bidang ekonomi yang lebih banyak tidak menggunakan ketidaktransparanan, konsep keseimbangan dalam pengertian kompetisi dan kemitraan, dan sebagainya.
Apa sebenarnya ciri utama sains?
Ciri sains yang terus berkembang diakui memiliki sifat utama yang disebut sebagai sifat ilmiah. Sifat ilmiah harus terus diterapkan oleh para pelaku pengembangan ilmu atau para ilmuwan atau cendekiawan. Penerapan sifat ilmiah pada perilaku seorang ilmuwan diwujudkan melalui sikap ilmiah, yang antara lain adalah taat asas, objektif. Pengertian sifat ilmiah dalam pengetahuan sain yang dimaksud di sini diambil dari sifat proses dan tujuan dari pengembangan iptek itu sendiri; yaitu mendasarkan keputusan dan keyakinan kebenaran pada informasi serta data-data empirik Artinya, data empirik, dijadikan sebagai satu-satunya alat pembuktian bagi keyakinan kebenaran di dalam dinamika interaksi yang berkaitan erat dengan kebenaran yang telah diakui sebelumnya. Sifat ini pula yang dirumuskan sebagai sifat taat asas dalam pengembangan lptek. Melalui sifat ini dimungkinkan terjadinya proses pengembangan yang berkelanjutan. Apabila data-data empirik yang diperoleh gagal dipakai sebagai bukti pembenaran, akan gugurlah kebenaran yang telah diyakini sebelumnya. Sebaliknya, apabila kekuatan pembuktian dari data empirik yang diperoleh belakangan tidak kuat, maka bukti akan gugur dengan sendirinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar