Seloka yang sekaligus bersifat pepatah
melayu menyatakan : “Tertumbuk biduk dikelokkan, tertumbuk mata dipicingkan,
tertumbuk kata difikiri”. Saat mata tertumbuk fakta, kala rasa mengunggah makna
dan kala hati memateri visi ; berribu kata berjuta makna terburai mengunggah
wacana. Tidak semata sebagai untaian kata yang bernuansa puitis, namun dibalik
itu tersirat falsafah yang mengundang perenungan demi perenungan yang bermuara
pada pemahaman. Setidaknya dalam benak penulis, terbentuk kerangka fikir yang disadari
masih banyak berkutat dalam ranah subjektivitas. Tak mustahil semua arti dapat
berbagi, agar teruji dan tak lagi berkubang dalam jebakan iblis laknatullah.
Sebagai pemeluk Islam, senantiasa muncul
kerinduan agar setiap saat dan kesempatan senantiasa berada pada kedudukan yang
tepat dan bertindak dalam suatu keputusan yang cermat dan akurat. Sehingga
bukan hanya secara fisik dapat melakukan sesuatu dengan baik dan benar, namun
juga dalam ranah jiwa, emosi penuh percaya diri dan berada dalam pelukan ketenangan
batin.
Telah banyak ulasan makna yang tersurat
maupun yang tersirat tentang “ udkhuluu
fii silmi kaaffah”. Bukan hanya sekedar tahap keingintahuan yang menyeruak
dalam hati, jauh lebih besar lagi adalah keinginan untuk menerapkannya dalam
seluruh sendi-sendi kehidupan; dalam lingkup aktivitas individual maupun
lingkup berjama’ah , masyarakat dan ummat islam keseluruhan.
“Wahai
orang-orang yang beriman, masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan
janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan. Sungguh , ia musuh yang nyata
bagimu”.
Kata “kaaffah” yang tersurat dalam ayat S : 2; 208 diatas dari akar kata
“kaffatun” memiliki arti :
sekaliannya, seluruhnya, semuanya.
Tafsiran kandungan ayat tersebut tersirat makna : holistik , dalam seluruh keadaan. Tersurat
dan tersirat dalam bagian akhir ayat tersebut, pernyataan kesetaraan antara
peran manusia dan syaithan. Karenanya terhadap manusia secara eksplisit
diwujudkan dalam bentuk perintah untuk memahami islam secara utuh. Dengan disatukannya peran syaithan dalam ayat
ini memberi makna kata kaffah tidak sekedar mencakup seluruh aspek
kehidupan manusia di dunia saja, akan tetapi juga mencakup dimensi akhirat.
Makna kaffah mencakup seluruh aspek kehidupan seseorang yang meliputi
wilayah/domain : Jasmaniyah, Ruhiyah, dan Rububiyah.
Peran syaithan dinyatakan sebagai musuh manusia dari sisi normatif sampai sisi
praktis. Mereka hadir dalam berbagai bentuk nilai negatif, berupa keburukan
terhadap pembentukan kualitas manusia.
Wilayah jasmaniyah mencakup aspek
kebutuhan fisik, seperti : kebugaran tubuh baik postur- penampilan, maupun
kesehatan, sandang - pangan - papan, kebersihan , keamanan dan sebagainya.
Tersirat dalam wilayah fisik individual adanya perintah kepada setiap muslim /
muslimah harus mampu memelihara dan menjaga agar tubuh selalu sehat, bersih,
tampil menarik. Wilayah fisik riil berupa wujud, tidak hanya tentang tubuh
maupun apa yang melekat padanya saja, akan tetapi berbentuk ruangan, tata cara
dan tatanan nilai kehidupan mulai dari sekitarnya sampai alam semesta
keseluruhan; sehingga setiap muslim mempunyai kewajiban agar membentuk,menjaga
dan memelihara lingkungan yang indah, menarik, bersih, sehat dan memberikan
ketenangan hidup.
Ruang alam semesta sangat berperan
secara langsung terhadap ukuran kualitas manusia. Seberapa luas ruang yang mampu dijangkau oleh
berbagai aktivitas yang baik dilakukan, maka akan sekian pula tinggi kualitas
yang dicapai. Kebalikan nilainya akan berlaku, apabila dalam tutur kata, laku
tindak yang dikerjakan berakibat pada kerugian atau perampasan hak atau milik
orang lain, maka kualitas manusia atau lingkungan akan menurun. Makin luas
cakupan dampak kerugian atau makin banyak pihak yang dirugikan akan makin
rendah pula kualitas manusia dan komunitas nya.
Cakupan dalam lingkup ruhiyah adalah
yang berkenaan dengan perasaan / emosional. Wilayah ruhiyah sangat erat
keterkaitannya dengan lingkungan kebutuhan hidup. Lingkup ini secara langsung
berkaitan dengan kehidupan social. Aktivitas kehidupan social yang antara lain berupa
bidang- bidang seperti : seni – budaya, ekonomi , politik , keamanan, kerapihan
dan kebersihan lingkungan dan sebagainya. Jangkauan ruang alam ruhiyah ,
termasuk pula di dalamnya berbentuk jangkauan alam fikiran atau pengetahuan.
Jangkauan alam fikiran akan membangun persepsi atau pandangan seseorang
terhadap keberadaan, peran serta tanggung jawab. Keluasan persepsi akan
mempertinggi pula kualitas yang bersangkutan. Kepemilikan kualitas individual
dalam wilayah ruhiyah sekaligus menjadi aset atau kekayaan komunitas atau
masyarakat bahkan bahkan bangsa dan Negara.
Wilayah Rububiyah secara sederhana dapat
dinyatakan sebagai bentuk keimanan. Tingkat keimanan merupakan ukuran kualitas
hubungan manusia dengan Tuhan, yang secara langsung berperan dominan dan sangat
penting pada cakupan wilayah jasmaniyah maupun ruhiyahnya. Sendi-sendi wilayah
Rububiyah menjadi dasar utama dari pilar-pilar kehidupan manusia. Pilar-pilar
kehidupan yang terdiri dari wilayah jasmaniyah dan ruhiyah berdiri pada
landasan wilayah rububiyah. Kekokohan , sekaligus kerapuhan sendi kehidupan
fisik maupun mental / emosional sangat ditentukan oleh kekuatan fondasi
keimanan seseorang. Alasan ini
didasarkan pada kenyataan historis turunnya surat-surat Makiyah, yang hampir
secara keseluruhan merupakan pemahaman dan pemantapan terhadap sikap Rububiyah.
Setidaknya secara dogmatis menurut
ajaran islam, diyakini ada kehidupan akhirat. Pada sebagian sisi nalar /
akliyah, kehidupan akhirat dapat diterima dan diakui keberadaannya. Kehidupan
dunia dan akhirat dipandang dari sisi individual bersifat serial, artinya kehidupan di akhirat merupakan kelanjutan
perjalanan hidupnya di dunia ini. Apa yang telah dilakukan dan diperolehnya di
dunia menjadi status dan bekal bagi kehidupannya di akhirat. Sifat serial ini
memiliki konsekuensi, dampak dan bentuk sebab - akibat. Dengan demikian,
logikanya dapat dinyatakan bahwa di akhirat kelak akan muncul tuntutan
pertanggungjawaban terhadap seluruh bentuk aspek kehidupan di dunia.
Dipandang dari sisi kehidupan komunitas,
kehidupan akhirat bersifat parallel
dengan kehidupan di dunia. Sifat parallel diyakini sesuai dengan tuntunan
ajaran islam yaitu : adanya kewajiban kita mendo’akan orang yang sudah
meninggal dunia, terutama kedua orang tua kita; dan pahala kebaikan amal
jariyah yang akan mengalir meskipun kita sudah meninggalkan dunia. Pada saat
kehidupan di dunia masih tetap berjalan, si empunya amal jariyah yang sudah
meninggal dapat menikmati buah jerih payah dari kehidupannya di dunia. Secara
implisit pemahaman ini menunjukkan bahwa kehidupan di dunia dan kehidupan
akhirat hadir atau ada secara
bersamaan. Diibaratkan, apabila
dipungkiri atau tidak dapat diterima adanya kehidupan akhirat, maka sifat
kehidupan ini laksana menempuh perjalanan sepanjang jalan buntu, tak ada arti
di ujung jalan tersebut.
Dengan uraian
diatas , kata kaffah mencakup makna yang tersirat antara lain, bahwa tuntunan
islam :
1. Mencukupi semua kebutuhan(fisik, psikis : emotional,
spiritual [dzikir , fikir, dan dhamir])
2. Mencakup semua aspek kehidupan(ekonomi, sosio
kultural, teknologi, hukum, politik)
3. Memenuhi semua fungsi dan peran (atasan, bawahan ,
kolega, anak, orang tua dll)
4. Berlaku untuk semua waktu (malam, pagi, siang,
sekarang, kemarin dan masa depan )
Pengertian itu menunjukkan bahwa al
Islam merupakan tuntunan kehidupan , baik bagi orang perorang (individual)
maupun bagi kelompok (komunal). Al Islam secara khusus ditujukan bagi umat
manusia, dengan seluruh aspek kehidupannya.
Mengapa bagi
manusia secara khusus ?.
Karena manusia
memiliki peran khusus yang membedakan antara manusia dengan mahluk lainnya.
Manusia memiliki peran dan tugas tertinggi di bumi, sebagai khalifah, sebagai
manajer, sebagai pengelola di bumi dan sekitarnya ini (S 2: 30). Peran dan
tugas ini oleh sebagian manusia sering dilupakan atau terlupakan. Selain itu,
hukum dinamika dalam alam semesta yang terus berjalan membawa
perubahan-perubahan yang akan terus berlanjut , seolah tanpa ujung. Dengan
alasan itulah diperlukan tuntunan, semacam manual bagi suatu peralatan agar
dapat dipergunakan dengan baik dan benar; atau semacam buku resep bagi koki
agar cita rasa masakan yang dihasilkannya enak,
menyehatkan dan terstandarisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar