Minggu, 28 April 2013

2. Taqwa



Perjalanan hidup setiap mahluk, termasuk juga manusia kemampuannya diawali oleh ketidak-berdayaan. Sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu dijumpai, diraih, ditingkatkan dan dikumpulkan berbagai kemampuan atau potensi; sehingga semua bentuk kemampuan, yaitu kemampuan fisik, kemampuan akal ,dan kemampuan emosional terus berkembang. Berbagai kemampuan, selama proses pengembangan tidak selamanya ditemukan dan diambil yang berkualitas baik agar terbangun kemampuan yang baik. Tidak jarang, manusia tidak tahu atau tidak sadar telah memilih sesuatu yang buruk. Sering kali manusia merasa bahwa apa yang dipilihnya itu yang baik, padahal sesungguhnya dia telah memilih yang buruk bagi dirinya; sehingga dapat berkembang kearah yang buruk atau ke arah negatif.
Agar kemampuan dan perilaku manusia tidak berkembang ke arah kualitas yang buruk diperlukan tuntunan atau arahan dalam menjalani kehidupannya. Tuntunan hidup diartikan sebagai landasan dalam menjalani berbagai aspek dalam kehidupan. Secara umum tuntunan hidup adalah tuntunan agar hidup berkualitas sempurna, atau paling tidak berkualitas baik. Tuntunan tersebut mencakup pola fikir dan pola tindak atau sikap dan perilaku dalam berbagai tempat dan pada setiap saat yang dijalani.
Terminologi manusia dalam menyatakan kualitas baik terdapat aneka ragam istilah. Pada masalah fisik dan visual, dikenal kualitas baik bagi manusia dimaknai antara lain oleh istilah tegap, kuat, bersih, sehat, cantik, ganteng, gesit, cekatan, menarik, dan lain sebagainya. Demikian pula pada masalah non fisik dikenal kualitas baik pada manusia, yang antara lain seperti : sayang, cinta, kasih, sopan, santun, ramah, bijak, dermawan, dan lain sebagainya. Setiap istilah yang dipakai tersebut memiliki perbedaan dan kekhususan tertentu terhadap istilah lainnya. Ukuran terhadap nilai kualitas sebaliknya, yaitu nilai buruk memiliki istilah tersendiri yang bermakna negatif atau lawan nilai dari istilah yang dipakai tersebut. Demikianlah terminologi manusia untuk menggambarkan kualitas manusia, baik dalam lingkup individual maupun dalam lingkup komunal.
Islam sebagai tuntunan hidup, kualitas manusia dinyatakan dalam satu kata, yaitu : taqwa. Dalam kata taqwa terrangkum semua terminologi yang ada dalam sebutan dan ukuran kualitas manusia. Dengan demikian, berbagai tuntunan yang diberikan oleh al Islam mulai dari sifat, sikap, pola fikir, pola tindak serta produknya diarahkan pada satu tujuan, yaitu meningkatkan kualitas taqwa. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah swt :
Wahai manusia ! Beribadahlah kepada Tuhanmu ; Yang menciptakan kamu semua dan semua yang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (al Baqarah, 21).
Pada ayat-ayat lainnya yang lebih spesifik dari itu, seperti : perintah Shalat, perintah Shaum, dan lainnya ditujukan agar manusia meningkatkan kualitasnya yang disebut taqwa, la’alakum tattaquun. Taqwa sebagai suatu ukuran kualitas manusia dalam seluruh dimensi kehidupan berasal dari akar kata isim musyabbahah (kata sifat tetap) itqaanun yang artinya : kokoh, kuat, teratur, rapih, atqana, artinya mengokohkan, membaikkan, atau dari akar kata waqaa, yang artinya : takut . Sesuai dengan cakupan makna kualitas multi dimensi tersebut, maka tersirat kualitas taqwa yang meliputi seluruh dimensi aspek kehidupan manusia.
Dalam surat al Baqarah ayat 21 diatas, kata ‘ubuduu’ (ibadah) merupakan fi’il amar (kata kerja perintah) pada manusia dalam seluruh dimensinya secara utuh, dalam semua potensi yang diberi Allah. Dalam firman Allah tersebut jelas diperintahkan pada manusia dengan seluruh potensi dalam seluruh aspek kehidupannya hanya untuk mewujudkan pengabdian kepada Nya.  Pada firman Allah berikut dan masih banyak ayat yang lainnya lebih ditegaskan lagi bahwa keberadaan manusia adalah untuk beribadah :
Tidak Aku jadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku “ (adz Dzariyaat,56)
Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah , Tuhan seru sekalian alam” (Al An’am , 162)
Tersirat makna di dalam kata ibadah bukanlah semata berupa hubungan vertikal antara individual manusia dengan al Khalik Sang Maha Pencipta (Hablun min Allah); tetapi tercakup juga hubungan horizontal antara manusia dengan seluruh mahluk di dalam alam semesta ini, yaitu hubungan antar manusia (hablun minan nas), dan hubungan antara manusia dengan mahluk lainnya (hablun min alaam). Dengan lain perkataan, tentu maksud beribadah kepada Allah tidak hanya berarti untuk penyembahan ritual atau ibadah mahdhah saja, seperti shalat, puasa atau naik haji saja. Semua bentuk dengan segala aspeknya dalam hidup ini harus memiliki tujuan pengabdian (ibadah) kepada Nya. Dirangkaikan dengan pemahaman yang telah diungkapkan sebelumnya, tentang pemahaman dan pelaksanaan islam secara utuh/kaaffah, maka makna ibadah mencakup seluruh aspek dalam kehidupan yang bersifat fisik maupun non fisiknya.
Berbagai ukuran “baik” yang diterapkan untuk menyatakan kualitas manusia, pada umumnya berorientasi pada produk (hasil akhir) yang telah terwujud saja. Manusia dinyatakan sehat, bersih, menarik, dermawan, dan lain sebagainya adalah fakta (kenyataan) sebagai suatu produk dari pola tindak yang dilakukan manusia. Nilai atau ukuran tersebut merupakan penggalan atau potongan, atau bagian dari suatu nilai yang utuh pada satu kesatuan. Tak ada satu istilah di luar al Qur’an yang menyatakan ukuran, nilai yang memiliki makna lengkap.
Taqwa sebagai ukuran bagi kualitas manusia dihadapan Allah mencakup seluruh dimensi dari semua potensi yang dimiliki manusia. Dengan pengertian ini, taqwa tidak hanya diukur dari produk atau bagian akhir dari apa yang dilakukan dan dimiliki manusia tersebut. Nilai taqwa meliputi seluruh perilaku dengan seluruh aspek yang menyertainya. Nilai taqwa mencakup keseluruhan kehidupan, sejak adanya keinginan (niat), perencanaan (domain intelektual dan emosional), pelaksanaan ( proses), cara / metoda (model, sarana dan prasarana),  sampai produk / hasil yang dihasilkan (dampak pada yang lain, efektivitas , dan efesiensi) secara menyeluruh.
Tuntunan islam dalam mengukur kualitas manusia tidak cukup hanya dari fakta yang diperlihatkan seseorang saja. Ambillah sebagai contoh dalam mengukur nilai dari istilah “dermawan”. Dihadapan Allah, kualitas dermawan tidak cukup diukur dari adanya fakta sering memberi berupa financial atau material kepada yang lain. Allah memberikan penilaian terhadap tingkat dermawan seseorang dengan memasukkan parameter lain, seperti :
Apakah kedermawanan tersebut membentuk kemandirian atau bahkan ketergantungan pada penerima kebaikannya ?
Apakah pemberiannya pada tempat dan waktu yang tepat dengan penerima ?
Apakah pemberian itu dengan kata, cara dan laku tubuh, mimik muka yang baik ?
Apakah pemberiannya didasarkan niat yang tulus sebagai pengabdian terhadap Allah semata ? Apakah objek pemberian itu diperoleh si Pemberi dengan cara yang baik dan benar sesuai nilai-nilai yang ditetapkan Allah ?
Demikian seterusnya ukuran atau nilai taqwa ditentukan dalam satu kesatuan dari keterkaitan seluruh makna parameternya. Masih banyak lagi contoh yang dapat dijumpai dalam perjalanan mengarungi waktu kehidupan. Masih sangat dalam makna yang terkandung di dalam samudra rahasia nilai dan sifat-sifat kehidupan.
Sudah barang tentu, ukuran dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berupa nilai biner , kalau tidak 1 ya 0 , atau bersifat kalau tidak putih, hanya ada warna hitam. Tingkatan / grade yang tepat dan akurat menjadi sifat Kemahakuasaan Allah.  Jelas tak mungkin dijumpai sifat dan kemampuan demikian ada pada satu diri manusia. Pada diri manusia, jangankan mampu melaksanakan secara tepat dan akurat apa yang terrangkum dalam sifat dan kemampuan tersebut, sekedar untuk menilai atau mengukurnya saja pun, rasanya tak pernah ada manusia yang mampu. Sebijak apapun dia, tak mungkin mampu mengukur ketaqwaan seseorang dihadapan Al Khalik, yang demikian sempurnanya. Hanya manusia yang mendapat bimbingan langsung dari Nya, yang akan mampu. Hanya Rasul Nya yang dapat, bukan hanya mengukur, tetapi juga melaksanakan sampai pada tingkat ketaqwaan tertinggi. Subhanallah….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar