Perjalanan
hidup setiap mahluk, termasuk juga manusia kemampuannya diawali oleh ketidak-berdayaan.
Sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu dijumpai, diraih, ditingkatkan dan dikumpulkan
berbagai kemampuan atau potensi; sehingga semua bentuk kemampuan, yaitu kemampuan
fisik, kemampuan akal ,dan kemampuan emosional terus berkembang. Berbagai
kemampuan, selama proses pengembangan tidak selamanya ditemukan dan diambil yang
berkualitas baik agar terbangun kemampuan yang baik. Tidak jarang, manusia tidak
tahu atau tidak sadar telah memilih sesuatu yang buruk. Sering kali manusia merasa
bahwa apa yang dipilihnya itu yang baik, padahal sesungguhnya dia telah memilih
yang buruk bagi dirinya; sehingga dapat berkembang kearah yang buruk atau ke arah
negatif.
Agar
kemampuan dan perilaku manusia tidak berkembang ke arah kualitas yang buruk diperlukan
tuntunan atau arahan dalam menjalani kehidupannya. Tuntunan hidup diartikan sebagai
landasan dalam menjalani berbagai aspek dalam kehidupan. Secara umum tuntunan hidup
adalah tuntunan agar hidup berkualitas sempurna, atau paling tidak berkualitas baik.
Tuntunan tersebut mencakup pola fikir dan pola tindak atau sikap dan perilaku dalam
berbagai tempat dan pada setiap saat yang dijalani.
Terminologi
manusia dalam menyatakan kualitas baik terdapat aneka ragam istilah. Pada masalah
fisik dan visual, dikenal kualitas baik bagi manusia dimaknai antara lain oleh istilah
tegap, kuat, bersih, sehat, cantik, ganteng, gesit, cekatan, menarik, dan lain
sebagainya. Demikian pula pada masalah non fisik dikenal kualitas baik pada manusia,
yang antara lain seperti : sayang, cinta, kasih, sopan, santun, ramah, bijak, dermawan,
dan lain sebagainya. Setiap istilah yang dipakai tersebut memiliki perbedaan dan
kekhususan tertentu terhadap istilah lainnya. Ukuran terhadap nilai kualitas sebaliknya,
yaitu nilai buruk memiliki istilah tersendiri yang bermakna negatif atau lawan nilai
dari istilah yang dipakai tersebut. Demikianlah terminologi manusia untuk menggambarkan
kualitas manusia, baik dalam lingkup individual maupun dalam lingkup komunal.
Islam
sebagai tuntunan hidup, kualitas manusia dinyatakan dalam satu kata, yaitu : taqwa.
Dalam kata taqwa terrangkum semua terminologi yang ada dalam sebutan dan ukuran
kualitas manusia. Dengan demikian, berbagai tuntunan yang diberikan oleh al
Islam mulai dari sifat, sikap, pola fikir, pola tindak serta produknya diarahkan
pada satu tujuan, yaitu meningkatkan kualitas taqwa. Sebagaimana dinyatakan
dalam firman Allah swt :
“Wahai manusia ! Beribadahlah kepada Tuhanmu
; Yang menciptakan kamu semua dan semua yang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”
(al Baqarah, 21).
Pada
ayat-ayat lainnya yang lebih spesifik dari itu, seperti : perintah Shalat,
perintah Shaum, dan lainnya ditujukan agar manusia meningkatkan kualitasnya
yang disebut taqwa, la’alakum tattaquun.
Taqwa sebagai suatu ukuran kualitas manusia dalam seluruh dimensi kehidupan
berasal dari akar kata isim musyabbahah (kata sifat tetap) itqaanun yang artinya : kokoh, kuat, teratur, rapih, atqana, artinya mengokohkan, membaikkan,
atau dari akar kata waqaa, yang
artinya : takut . Sesuai dengan cakupan makna kualitas multi dimensi tersebut,
maka tersirat kualitas taqwa yang meliputi seluruh dimensi aspek kehidupan
manusia.
Dalam surat al Baqarah ayat 21 diatas, kata ‘ubuduu’
(ibadah) merupakan fi’il amar (kata kerja perintah) pada manusia dalam seluruh
dimensinya secara utuh, dalam semua potensi yang diberi Allah. Dalam firman
Allah tersebut jelas diperintahkan pada manusia dengan seluruh potensi dalam
seluruh aspek kehidupannya hanya untuk mewujudkan pengabdian kepada Nya. Pada firman Allah berikut dan masih banyak
ayat yang lainnya lebih ditegaskan lagi bahwa keberadaan manusia adalah untuk
beribadah :
“Tidak Aku jadikan Jin dan Manusia melainkan
untuk beribadah kepada Ku “ (adz Dzariyaat,56)
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah , Tuhan seru sekalian alam” (Al
An’am , 162)
Tersirat
makna di dalam kata ibadah bukanlah
semata berupa hubungan vertikal antara individual manusia dengan al Khalik Sang
Maha Pencipta (Hablun min Allah); tetapi tercakup juga hubungan horizontal
antara manusia dengan seluruh mahluk di dalam alam semesta ini, yaitu hubungan
antar manusia (hablun minan nas), dan hubungan antara manusia dengan mahluk
lainnya (hablun min alaam). Dengan lain perkataan, tentu maksud beribadah
kepada Allah tidak hanya berarti untuk penyembahan ritual atau ibadah mahdhah
saja, seperti shalat, puasa atau naik haji saja. Semua bentuk dengan segala
aspeknya dalam hidup ini harus memiliki tujuan pengabdian (ibadah) kepada Nya. Dirangkaikan
dengan pemahaman yang telah diungkapkan sebelumnya, tentang pemahaman dan pelaksanaan
islam secara utuh/kaaffah, maka makna ibadah mencakup seluruh aspek dalam
kehidupan yang bersifat fisik maupun non fisiknya.
Berbagai
ukuran “baik” yang diterapkan untuk menyatakan kualitas manusia, pada umumnya
berorientasi pada produk (hasil akhir) yang telah terwujud saja. Manusia
dinyatakan sehat, bersih, menarik, dermawan, dan lain sebagainya adalah fakta
(kenyataan) sebagai suatu produk dari pola tindak yang dilakukan manusia. Nilai
atau ukuran tersebut merupakan penggalan atau potongan, atau bagian dari suatu
nilai yang utuh pada satu kesatuan. Tak ada satu istilah di luar al Qur’an yang
menyatakan ukuran, nilai yang memiliki makna lengkap.
Taqwa
sebagai ukuran bagi kualitas manusia dihadapan Allah mencakup seluruh dimensi
dari semua potensi yang dimiliki manusia. Dengan pengertian ini, taqwa tidak
hanya diukur dari produk atau bagian akhir dari apa yang dilakukan dan dimiliki
manusia tersebut. Nilai taqwa meliputi seluruh perilaku dengan seluruh aspek
yang menyertainya. Nilai taqwa mencakup keseluruhan kehidupan, sejak adanya
keinginan (niat), perencanaan (domain intelektual dan emosional), pelaksanaan (
proses), cara / metoda (model, sarana dan prasarana), sampai produk / hasil yang dihasilkan (dampak
pada yang lain, efektivitas , dan efesiensi) secara menyeluruh.
Tuntunan
islam dalam mengukur kualitas manusia tidak cukup hanya dari fakta yang
diperlihatkan seseorang saja. Ambillah sebagai contoh dalam mengukur nilai dari
istilah “dermawan”. Dihadapan Allah,
kualitas dermawan tidak cukup diukur dari adanya fakta sering memberi berupa financial
atau material kepada yang lain. Allah memberikan penilaian terhadap tingkat
dermawan seseorang dengan memasukkan parameter lain, seperti :
Apakah
kedermawanan tersebut membentuk kemandirian atau bahkan ketergantungan pada
penerima kebaikannya ?
Apakah
pemberiannya pada tempat dan waktu yang tepat dengan penerima ?
Apakah
pemberian itu dengan kata, cara dan laku tubuh, mimik muka yang baik ?
Apakah
pemberiannya didasarkan niat yang tulus sebagai pengabdian terhadap Allah
semata ? Apakah objek pemberian itu diperoleh si Pemberi dengan cara yang baik
dan benar sesuai nilai-nilai yang ditetapkan Allah ?
Demikian
seterusnya ukuran atau nilai taqwa ditentukan dalam satu kesatuan dari
keterkaitan seluruh makna parameternya. Masih banyak lagi contoh yang dapat
dijumpai dalam perjalanan mengarungi waktu kehidupan. Masih sangat dalam makna
yang terkandung di dalam samudra rahasia nilai dan sifat-sifat kehidupan.
Sudah
barang tentu, ukuran dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berupa
nilai biner , kalau tidak 1 ya 0 , atau bersifat kalau tidak putih, hanya ada
warna hitam. Tingkatan / grade yang tepat dan akurat menjadi sifat
Kemahakuasaan Allah. Jelas tak mungkin
dijumpai sifat dan kemampuan demikian ada pada satu diri manusia. Pada diri
manusia, jangankan mampu melaksanakan secara tepat dan akurat apa yang
terrangkum dalam sifat dan kemampuan tersebut, sekedar untuk menilai atau
mengukurnya saja pun, rasanya tak pernah ada manusia yang mampu. Sebijak apapun
dia, tak mungkin mampu mengukur ketaqwaan seseorang dihadapan Al Khalik, yang
demikian sempurnanya. Hanya manusia yang mendapat bimbingan langsung dari Nya,
yang akan mampu. Hanya Rasul Nya yang dapat, bukan hanya mengukur, tetapi juga
melaksanakan sampai pada tingkat ketaqwaan tertinggi. Subhanallah….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar