Kamis, 09 Mei 2013

6. Al Qur’an tentang Ilmu Pengetahuan



Hipotesa, dalam pengertian umum dapat didekatkan dengan istilah persepsi, bayangan atau angan seseorang. Persepsi manusia yang beraneka ragam dapat diibaratkan sebagai kumpulan potongan gambar / puzzle yang terserak dihadapan mata. Potongan-potongan gambar tersebut, apabila disusun akan menghasilkan gambar bermacam-macam pula. Gambar yang terbentuk dari susunan potongan-potongan yang sama dapat menghasilkan gambar berbeda. Akibat persepsi yang berbeda maka akan terdapat sekian banyak pola gambar.
Gambar mana yang benar telah dibangun oleh pembuat potongan-potongan itu ?
Jawaban sederhana dari pertanyaan ini tentu adalah Pembuat gambar itulah yang paling tepat mengetahui bagaimana pola gambar sesungguhnya. Titik awal dari kerangka fikir yang menjadi keyakinan bahwa gambar tersebut ada yang membuat menjadi dasar utama. Apabila tidak ada keyakinan bahwa pola gambar ada yang membuat, maka semua kesimpulan akan menyebar (divergen) kemana-mana. Setiap persepsi akan menyatakan bentuk gambar sendiri-sendiri, yang belum tentu sama bahkan dapat bertentangan satu dengan lainnya.
Perumpamaan ini dapat dianalogikan sebagai pola fikir dalam memahami alam semesta, sifat-perilaku kehidupan yang ada di dalamnya dan Sang Maha Pencipta. Seringkali pembuat teka-teki dari potongan-potongan gambar tak bersedia menunjukkan gambar apa sesungguhnya yang dibuatnya; namun bagi Allah swt sebagai Maha Pencipta yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah memberikan petunjuk ke arah pemahaman yang utuh. Hanya saja, karena misteri yang telah dibuat Nya demikian tak berbatas, maka jawaban misteri akan baru tuntas terjawab pada ujung perjalan pengembangan peradaban manusia itu sendiri.
Suatu kerangka fikir yang sampai saat ini dipandang sebagai satu system yang ajeg (steady), taat asas (consistent), dan berkesinambungan (sustainable), adalah ilmu pengetahuan (sciences). Sistem ini diakui telah dibangun oleh landasan ilmiah (scientific base), dengan sifat-sifat ilmiah (scientific behavior), cara atau metoda ilmiah (scientific method), dan terbukti mampu membentuk sikap atau pribadi ilmiah (scientific attitude). Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap ilmiah menjadi norma dasar dalam system nilai masyarakat ilmiah, yang sering pula disebut sebagai knowledge based society. Meskipun diakui bahwa system nilai dalam masyarakat ilmiah hanyalah sebagai bagian dari pengembangan peradaban umat manusia secara keseluruhan. Terdapat unsur atau bagian lain yang juga sangat kuat membangun peradaban, seperti unsur kebudayaan, tradisi yang kadang kala bertolak belakang dengan nilai-nilai masyarakat ilmiah.
Kenyataan dan perjalanan sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa system nilai yang dianut dan dikembangkan dalam masyarakat ilmiah adalah sebagai system nilai terunggul. Apabila unsur-unsur lain yang berkembang dan memperlihatkan nilai keunggulan hanya pada satu wilayah atau bagian dari suatu masyarakat saja; tidak demikian halnya pada nilai keunggulan sifat ilmiah, terus berkembang dan unggul di seluruh permukaan bumi. Kebudayaan Romawi unggul hanya di daratan Eropah, bahkan hanya bagian selatan dan barat saja; kebudayaan Mesir Kuno hanya unggul di Afrika bagian utara saja; kebudayaan Cina hanya unggul di sebagian benua Asia saja; dan seterusnya. Demikian pula keunggulan yang dibangun oleh unsur-unsur budaya ini suatu saat akan mencapai titik kulminasi yang kemudian merosot redup seiring perjalanan waktu; namun keadaan sebaliknya pada keunggulan sains dengan produk riilnya yang disebut teknik dan teknologi, terus naik dan akan makin terus naik. Meskipun pada saat-saat tertentu memang pernah mengalami pasang surut, namun tetap sains-tek yang ada sekarang pada hakekatnya adalah kelanjutan dari sains-tek yang muncul sejak awal.
Bagaimana islam menuntun menuju pribadi unggul sebagai ulil albaab, dan masyarakat terunggul sebagai khairun ummah ?
Bertitik tolak dari paradigm (system nilai) yang diungkap tersebut dapat kiranya ditelusuri, baik dari sisi historis (sirah nabawiyah), sifat dan makna ibadah ritual, sifat dan kandungan muammalah (interaksi dengan masyarakat), maupun sifat dan sikap Tauhidullah (Pengesaan terhadap Allah).
Islam menomorsatukan ilmu pengetahuan, sehingga 4 wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw seluruhnya tentang ilmu pengetahuan; bukan tentang kehidupan lainnya.
Wahyu pertama : al Alaaq ( S 96, ayat 1 s/d 5), khusus ayat 3 s/d 5 perintah tentang belajar dengan proses yang benar, dan yang dipelajari adalah ilmu yang dibuat oleh Allah swt. Sebab ada ilmu yang disusun oleh iblis yang akan menjerumuskan manusia.
Wahyu kedua : al Qalaam (S 68, ayat 1 s/d 8 ) , yang mendeskripsikan arti dan peran ilmu pengetahuan. Diingatkan tentang tantangan dan ujian serta perlawanan iblis yang akan menyesatkan baik makna, peran maupun objek ilmu pengetahuan itu sendiri.
Wahyu ketiga : al Muzzamil ( S 73, ayat 1 s/d 5 ), yang memerintahkan melakukan pengkajian, penelitian sebagai bentuk pengembangan ilmu pengetahuan. Wahyu ketiga ini mengandung makna perlunya pengurbanan. Di saat yang lain istirahat dan tidur nyenyak kita ditantang untuk bangun dan menggali makna-makna (hikmah) dalam kehidupan. Yang akan dicapaipun bukanlah sesuatu yang ringan.  Inna sanulqii ‘alayka qawlan syaqiilan”.
Wahyu keempat : al Muddatsir (S 74 , ayat 1 s/d 7 ), yang memerintahkan untuk membagikan ilmu pengetahuan; bahkan dalam ayat lainnya ditegaskan pula meskipun kita baru tahu sedikit (satu ayat). Tujuan dari ilmu pengetahuan ini adalah semata-mata untuk meningkatkan kualitas pengabdian dan demi Keagungan Allah swt. Sehingga perlu diingatkan pula agar membersihkan diri dan tidak tergoda oleh tujuan lainnya.
Pada ayat lain (al Mujadalah , S 58 , ayat 11) betapa senang Allah swt kepada manusia yang haus pada ilmu pengetahuan, sehingga Allah swt tak segan-segan memberikan penghargaan / reward kepada mereka, berupa kenaikan tingkat beberapa derajat. Penghargaan dan imbalan dari Allah swt terhadap manusia yang memiliki ilmu pengetahuan tidak saja berupa kedudukan atau tingkat yang lebih tinggi; akan tetapi ditetapkan Nya pula bahwa ilmu pengetahuan sebagai asset yang dapat didepositokan berupa asset jariyah apabila dikerjakan dalam bentuk penyebaran atau pengajaran. Bunga deposito ini abadi dan akan dapat diperoleh tidak hanya sepanjang hidup, tetapi terus mengalir, meskipun manusia tersebut telah meninggal dunia. Manusia yang paling beruntung sepanjang sejarah kemanusiaan, setelah Nabi Muhammad saw, adalah Nabi Ibrahim a.s. Karena pengembangan diri dan potensi keilmuannya, Allah swt menganugerahkan penghargaan monumental dengan pahala yang terus mengalir sampai akhir zaman, melalui pengajuan salawat setiap muslimin yang mengerjakan shalat.
Ilmu pengetahuan sebagai senjata handalan maha ampuh manusia sehingga menjadikan manusia menjadi mahluk paling unggul diantara seluruh makhluk ciptaan Nya, telah disuratkan dalam surat al Baqarah ( S 2, ayat 30 s/d 36). Dalam tafsiran dari ayat-ayat ini yang dimaksud “al asma’a kullaha” adalah symbol-simbol yang menjadi inti ilmu pengetahuan.
Pada ayat lain (al Imran , S 3, ayat 110), umat islam mendapat anugerah penghargaan sebagai umat terbaik memiliki ciri 3 hal yaitu : berkemampuan mengajak pada segala sesuatu yang baik, mencegah segala sesuatu yang buruk atau berdampak buruk , dan meyakini akan Keesaan dan Kekuasaan Allah swt. Semua ciri atau identitas tersebut hanya mungkin terwujud dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ukuran baik dan buruk yang paling akurat dan bijak bila didasarkan pada norma-norma saintifik. Ukuran baik dan buruk akan sangat membahayakan dirinya, dan lingkungannya; sekarang bahkan sangat mungkin pada masa yang akan datang apabila digunakan alat ukur emosional atau kira-kira, menurut perasaan. 
Pertanyaan berikut mungkin akan muncul, mengapa umat islam dinyatakan sebagai umat terbaik. Apakah umat terdahulu belum diberi ilmu pengetahuan ? . Ataukah ilmu pengetahuan yang benar hanya yang diturunkan sesudah umat Muhammad saw ?
Beberapa kerangka fikir logis dapat dikemukakan sebagai berikut :
Pertama, umat terdahulu belum memperlakukan ilmu pengetahuan dengan sifat terbuka. Ilmu pengetahuan dikuasai oleh para “Penguasa’, baik dari kalangan Penguasa , maupun para pemuka agama yang berkolaborasi dengan Penguasa; dan digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Kedua, umat terdahulu belum memiliki dasar-dasar saintifik, konsep hipotesa, lemma , teorema belum tersusun dengan ajeg dan terstruktur secara sistematis. Berbagai temuan, fakta, dan perumusan masih bersifat centang-perenang laksana potongan-potongan informasi (puzzle pengetahuan). Ketiga, barangkali sebagai hipotesa penulis, sejak diturunkan wahyu, dan mengangkat Muhammad saw sebagai Rasul Nya dan merupakan Rasul penutup, artinya umat manusia telah mampu disapih. Dengan ilmu pengetahuan, Allah swt memandang manusia telah mampu mandiri untuk menemukan dang menempuh jalan yang seharusnya menggapai keridhoan Allah swt. Andai umat manusia tidak menemukan jalan itu dan tersesat, artinya tidak lagi mengacu pada al Qur’an dan sunah Rasul, maka terjadilah Qiyamat Kubra; sebab sejak Rasulallah wafat tak akan pernah ada lagi Utusan Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar