Hipotesa,
dalam pengertian umum dapat didekatkan dengan istilah persepsi, bayangan atau
angan seseorang. Persepsi manusia yang beraneka ragam dapat diibaratkan sebagai
kumpulan potongan gambar / puzzle yang terserak dihadapan mata.
Potongan-potongan gambar tersebut, apabila disusun akan menghasilkan gambar
bermacam-macam pula. Gambar yang terbentuk dari susunan potongan-potongan yang
sama dapat menghasilkan gambar berbeda. Akibat persepsi yang berbeda maka akan
terdapat sekian banyak pola gambar.
Gambar
mana yang benar telah dibangun oleh pembuat potongan-potongan itu ?
Jawaban
sederhana dari pertanyaan ini tentu adalah Pembuat gambar itulah yang paling
tepat mengetahui bagaimana pola gambar sesungguhnya. Titik awal dari kerangka
fikir yang menjadi keyakinan bahwa gambar tersebut ada yang membuat menjadi
dasar utama. Apabila tidak ada keyakinan bahwa pola gambar ada yang membuat,
maka semua kesimpulan akan menyebar (divergen) kemana-mana. Setiap persepsi
akan menyatakan bentuk gambar sendiri-sendiri, yang belum tentu sama bahkan
dapat bertentangan satu dengan lainnya.
Perumpamaan
ini dapat dianalogikan sebagai pola fikir dalam memahami alam semesta, sifat-perilaku kehidupan yang ada di dalamnya dan Sang Maha Pencipta. Seringkali
pembuat teka-teki dari potongan-potongan gambar tak bersedia menunjukkan gambar
apa sesungguhnya yang dibuatnya; namun bagi Allah swt sebagai Maha Pencipta
yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah memberikan petunjuk ke arah
pemahaman yang utuh. Hanya saja, karena misteri yang telah dibuat Nya demikian
tak berbatas, maka jawaban misteri akan baru tuntas terjawab pada ujung
perjalan pengembangan peradaban manusia itu sendiri.
Suatu
kerangka fikir yang sampai saat ini dipandang sebagai satu system yang ajeg
(steady), taat asas (consistent), dan berkesinambungan (sustainable), adalah
ilmu pengetahuan (sciences). Sistem ini diakui telah dibangun oleh landasan
ilmiah (scientific base), dengan sifat-sifat ilmiah (scientific behavior), cara
atau metoda ilmiah (scientific method), dan terbukti mampu membentuk sikap atau
pribadi ilmiah (scientific attitude). Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap
ilmiah menjadi norma dasar dalam system nilai masyarakat ilmiah, yang sering
pula disebut sebagai knowledge based society. Meskipun diakui bahwa system
nilai dalam masyarakat ilmiah hanyalah sebagai bagian dari pengembangan peradaban
umat manusia secara keseluruhan. Terdapat unsur atau bagian lain yang juga
sangat kuat membangun peradaban, seperti unsur kebudayaan, tradisi yang kadang
kala bertolak belakang dengan nilai-nilai masyarakat ilmiah.
Kenyataan
dan perjalanan sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa system nilai
yang dianut dan dikembangkan dalam masyarakat ilmiah adalah sebagai system nilai
terunggul. Apabila unsur-unsur lain yang berkembang dan memperlihatkan nilai
keunggulan hanya pada satu wilayah atau bagian dari suatu masyarakat saja;
tidak demikian halnya pada nilai keunggulan sifat ilmiah, terus berkembang dan
unggul di seluruh permukaan bumi. Kebudayaan Romawi unggul hanya di daratan
Eropah, bahkan hanya bagian selatan dan barat saja; kebudayaan Mesir Kuno hanya
unggul di Afrika bagian utara saja; kebudayaan Cina hanya unggul di sebagian
benua Asia saja; dan seterusnya. Demikian pula keunggulan yang dibangun oleh
unsur-unsur budaya ini suatu saat akan mencapai titik kulminasi yang kemudian
merosot redup seiring perjalanan waktu; namun keadaan sebaliknya pada
keunggulan sains dengan produk riilnya yang disebut teknik dan teknologi, terus
naik dan akan makin terus naik. Meskipun pada saat-saat tertentu memang pernah
mengalami pasang surut, namun tetap sains-tek yang ada sekarang pada hakekatnya
adalah kelanjutan dari sains-tek yang muncul sejak awal.
Bagaimana
islam menuntun menuju pribadi unggul sebagai ulil albaab, dan masyarakat terunggul sebagai khairun ummah ?
Bertitik
tolak dari paradigm (system nilai) yang diungkap tersebut dapat kiranya
ditelusuri, baik dari sisi historis (sirah nabawiyah), sifat dan makna ibadah ritual,
sifat dan kandungan muammalah (interaksi dengan masyarakat), maupun sifat dan
sikap Tauhidullah (Pengesaan terhadap Allah).
Islam
menomorsatukan ilmu pengetahuan, sehingga 4 wahyu pertama yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw seluruhnya tentang ilmu pengetahuan; bukan tentang
kehidupan lainnya.
Wahyu pertama : al Alaaq ( S 96, ayat 1
s/d 5), khusus ayat 3 s/d 5 perintah tentang belajar dengan proses yang benar,
dan yang dipelajari adalah ilmu yang dibuat oleh Allah swt. Sebab ada ilmu yang
disusun oleh iblis yang akan menjerumuskan manusia.
Wahyu kedua : al Qalaam (S 68, ayat 1
s/d 8 ) , yang mendeskripsikan arti dan peran ilmu pengetahuan. Diingatkan
tentang tantangan dan ujian serta perlawanan iblis yang akan menyesatkan baik
makna, peran maupun objek ilmu pengetahuan itu sendiri.
Wahyu ketiga : al Muzzamil ( S 73, ayat
1 s/d 5 ), yang memerintahkan melakukan pengkajian, penelitian sebagai bentuk
pengembangan ilmu pengetahuan. Wahyu ketiga ini mengandung makna perlunya
pengurbanan. Di saat yang lain istirahat dan tidur nyenyak kita ditantang untuk
bangun dan menggali makna-makna (hikmah) dalam kehidupan. Yang akan dicapaipun
bukanlah sesuatu yang ringan. “Inna sanulqii ‘alayka qawlan syaqiilan”.
Wahyu keempat : al Muddatsir (S 74 ,
ayat 1 s/d 7 ), yang memerintahkan untuk membagikan ilmu pengetahuan; bahkan
dalam ayat lainnya ditegaskan pula meskipun kita baru tahu sedikit (satu ayat).
Tujuan dari ilmu pengetahuan ini adalah semata-mata untuk meningkatkan kualitas
pengabdian dan demi Keagungan Allah swt. Sehingga perlu diingatkan pula agar
membersihkan diri dan tidak tergoda oleh tujuan lainnya.
Pada
ayat lain (al Mujadalah , S 58 , ayat 11) betapa senang Allah swt kepada
manusia yang haus pada ilmu pengetahuan, sehingga Allah swt tak segan-segan
memberikan penghargaan / reward kepada mereka, berupa kenaikan tingkat beberapa
derajat. Penghargaan dan imbalan dari Allah swt terhadap manusia yang memiliki
ilmu pengetahuan tidak saja berupa kedudukan atau tingkat yang lebih tinggi;
akan tetapi ditetapkan Nya pula bahwa ilmu pengetahuan sebagai asset yang dapat
didepositokan berupa asset jariyah apabila dikerjakan dalam bentuk penyebaran
atau pengajaran. Bunga deposito ini abadi dan akan dapat diperoleh tidak hanya
sepanjang hidup, tetapi terus mengalir, meskipun manusia tersebut telah
meninggal dunia. Manusia yang paling beruntung sepanjang sejarah kemanusiaan,
setelah Nabi Muhammad saw, adalah Nabi Ibrahim a.s. Karena pengembangan diri
dan potensi keilmuannya, Allah swt menganugerahkan penghargaan monumental dengan
pahala yang terus mengalir sampai akhir zaman, melalui pengajuan salawat setiap
muslimin yang mengerjakan shalat.
Ilmu
pengetahuan sebagai senjata handalan maha ampuh manusia sehingga menjadikan
manusia menjadi mahluk paling unggul diantara seluruh makhluk ciptaan Nya, telah
disuratkan dalam surat al Baqarah ( S 2, ayat 30 s/d 36). Dalam tafsiran dari
ayat-ayat ini yang dimaksud “al asma’a
kullaha” adalah symbol-simbol yang menjadi inti ilmu pengetahuan.
Pada
ayat lain (al Imran , S 3, ayat 110), umat islam mendapat anugerah penghargaan
sebagai umat terbaik memiliki ciri 3 hal yaitu : berkemampuan mengajak pada
segala sesuatu yang baik, mencegah segala sesuatu yang buruk atau berdampak
buruk , dan meyakini akan Keesaan dan Kekuasaan Allah swt. Semua ciri atau
identitas tersebut hanya mungkin terwujud dengan penguasaan ilmu pengetahuan.
Ukuran baik dan buruk yang paling akurat dan bijak bila didasarkan pada
norma-norma saintifik. Ukuran baik dan buruk akan sangat membahayakan dirinya,
dan lingkungannya; sekarang bahkan sangat mungkin pada masa yang akan datang
apabila digunakan alat ukur emosional atau kira-kira, menurut perasaan.
Pertanyaan
berikut mungkin akan muncul, mengapa umat islam dinyatakan sebagai umat
terbaik. Apakah umat terdahulu belum diberi ilmu pengetahuan ? . Ataukah ilmu
pengetahuan yang benar hanya yang diturunkan sesudah umat Muhammad saw ?
Beberapa
kerangka fikir logis dapat dikemukakan sebagai berikut :
Pertama,
umat terdahulu belum memperlakukan ilmu pengetahuan dengan sifat terbuka. Ilmu
pengetahuan dikuasai oleh para “Penguasa’, baik dari kalangan Penguasa , maupun
para pemuka agama yang berkolaborasi dengan Penguasa; dan digunakan untuk
melanggengkan kekuasaan. Kedua, umat terdahulu belum memiliki dasar-dasar
saintifik, konsep hipotesa, lemma , teorema belum tersusun dengan ajeg dan
terstruktur secara sistematis. Berbagai temuan, fakta, dan perumusan masih
bersifat centang-perenang laksana potongan-potongan informasi (puzzle
pengetahuan). Ketiga, barangkali sebagai hipotesa penulis, sejak diturunkan wahyu,
dan mengangkat Muhammad saw sebagai Rasul Nya dan merupakan Rasul penutup, artinya
umat manusia telah mampu disapih. Dengan ilmu pengetahuan, Allah swt memandang manusia
telah mampu mandiri untuk menemukan dang menempuh jalan yang seharusnya menggapai
keridhoan Allah swt. Andai umat manusia tidak menemukan jalan itu dan tersesat,
artinya tidak lagi mengacu pada al Qur’an dan sunah Rasul, maka terjadilah Qiyamat
Kubra; sebab sejak Rasulallah wafat tak akan pernah ada lagi Utusan Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar