Pola
fikir manusia dengan data-data hasil pengamatannya mencoba merumuskan tentang bagaimana
proses penciptaan alam semesta terjadi. Diantara berbagai model dan teori yang
dikemukakan, salah satu diantaranya ada yang merumuskan berupa “Peristiwa”
ledakan dahsyat (“Big Bang”). Teori Big Bang menggambarkan bahwa alam semesta
dilahirkan melalui suatu ledakan dari sesuatu yang sangat massif / padat. Semua
dari sesuatu yang masif ini terlempar menjauhi titik awal ledakkan, sebagaimana
layaknya semua materi yang terlempar dari sebuah petasan yang meledak.
Mengapa
masih ada yang tidak mengakui sama sekali atau hanya sebagian yang diakuinya
dari perumusan pola fikir ini ?.
Polemik
tentang penciptaan alam semesta muncul bukan sekedar pada peristiwa ledakannya
semata. Pengkajian peristiwa ini berkembang pada berbagai sifat dan perilaku
yang terkait di dalamnya; antara lain tentang pemahaman konsep ruang dan waktu,
proses kelahiran benda-benda langit, termasuk bumi, matahari, serta berbagai
proses lain yang menyertainya.
Fakta
nyata yang telah diketahui adalah dalam alam semesta terdapat benda-benda
langit yang tak terhitung jumlahnya. Bumi tempat kita tinggal berupa bola yang
berdiameter sekitar 12.725 Km,
hanya sekitar seperseratus dari besarnya matahari. Jarak antara bumi dan matahari dihitung oleh para ahli
sebesar 149.600.000 km ditempuh oleh cahaya hanya dalam waktu sekitar 8 menit
dan 15 detik saja. Dapat dikatakan bumi laksana sebutir
debu melayang di udara. Matahari dalam ilmu Astronomi disebut sebagai salah
satu keluarga bintang yang bertaburan dan berkelompok-kelompok di dalam alam
semesta.
Kelompok bintang-bintang yang berdekatan membentuk
rasi bintang. Kelompok-kelompok bintang
berada dalam suatu kumpulan yang disebut galaksi, tak terhitung banyaknya galaksi-galaksi. Ditaksir, di alam semesta terdapat sekitar
10.000.000.000 galaksi. Galaksi tempat bumi berada dinamai Bimasakti.
Orang memperkirakan dalam Galaksi - Bimasakti ini terdapat tak
kurang dari 100.000.000.000 buah bintang. Atas dasar pengetahuan ini, dapatkah
dibayangkan berapa buah bintang yang ada di seluruh alam semesta ini ?.
Gambaran ruang, atau seberapa besar alam semesta ini,
mari kita tata dalam ukuran tubuh kita. Tinggi tubuh kita sekitar 2 m, dan
langkah kita sekitar 60 cm = 0,6 m. Pulau Jawa yang panjangnya sekitar 1.000 km
= 1.000.000 m, ditempuh perjalanan darat naik kereta api sekitar 12 jam,
melelahkan sekali. Jarak ini bila ditempuh oleh pesawat terbang paling cepat
sekitar 1 jam perjalanan. Bayangkan, panjang jarak pulau Jawa
hanya ditempuh cahaya hanya sekitar 0,003 detik saja. Jarak yang ditempuh oleh
perjalanan cahaya sering dipakai sebagai satuan jarak dalam alam semesta yang
demikian jauhnya, sehingga satuan yang dipakai dalam sebutan Tahun Cahaya,
yaitu jarak yang ditempuh cahaya selama setahun.
Satu detik, cahaya menempuh jarak 300.000.000 meter.
Artinya, dalam satu detik saja cahaya dapat menempuh perjalanan lebih dari 100
kali pulang pergi dari ujung barat sampai ujung timur Negara Indonesia. Padahal kemampuan tercepat manusia terbang
dengan pesawat komersial masih di bawah 350 meter per detiknya ; atau untuk
menempuh dari ujung ke ujung negara Indonesia saja masih diperlukan seperempat
hari.
Apabila dinyatakan dalam satuan ukuran Kilo meter (Km)
atau Ribuan meter, jarak satu Tahun Cahaya adalah sekitar 9.500.000.000.000 Km.
Para ahli telah memberikan data bahwa bintang Alfa Centauri, sebagai bintang terdekat dengan Matahari, berjarak
sekitar 4,3 Tahun Cahaya.
Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa luas banyak diantaranya yang
berjarak jutaan Tahun Cahaya dari sistim tatasurya ini.
Konsep teori Big Bang mengarahkan kita pada suatu
kerangka fikiran bahwa galaksi-galaksi tersebut bergerak menjauhi "titik awal ledakan" (yaitu
"tempat" saat pertama alam semesta diciptakan). Kecepatan gerak
seluruh “material” alam semesta ini sangat tinggi, karena bergerak di dalam
ruang hampa dan tanpa pengaruh berarti dari material lainnya; hingga
bintang-bintang bergerak menjauhi titik awal ledakan mencapai kecepatan sebesar
100.000 km per detiknya. Dengan
demikian, dapat disimpulkan perilaku alam semesta ini dalam ukuran atau
bentuknya laksana sebuah balon yang
ditiup dan membesar secara
terus-menerus dengan jari-jarinya setiap detik bertambah besar 100.000 km.
Dari pemahaman model tentang alam semesta yang terus
berkembang / membesar ini saja menunjukkan betapa kecil ukuran dan kemampuan
manusia untuk menjangkau luasnya ruang alam semesta. Secara fisik, setidaknya
sampai saat ini, tak ada kendaraan yang mampu dibuat agar dapat menjangkau tepi
alam semesta. Besarnya alam semesta yang
tak terbayangkan oleh keterbatasan manusia menjadi model saintifik hingga saat
ini belum ada yang menyangkal keabsahannya.
Sebagaimana
dituliskan pada bagian awal tulisan ini, memang masih ada sebagian ilmuwan yang
meragukan tentang teori Big Bang. Sebagai seorang muslim perlu dilihat
referensi yang kita yakini dan tak pernah diragukan lagi keabsahannya, yaitu al
Qur’an. Dengan symbol kata yang dekat terhadap substansi pembahasan ini, bagaimanakah
al Qur’an menjelaskan tentang alam semesta ini ?. Setidaknya beberapa ayat yang
dapat dinukilkan dari al Qur’an menyatakan beberapa hal berikut :
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit
gugusan-gugusan bintang, dan dijadikan padanya matahari yang bersinar dan bulan
bercahaya “. ( al Furqan , 61 )
“Dan apakah orang-orang kafir tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi (alam semesta) itu sebelumnya keduanya
adalah satu yang padat, kemudian Kami cerai-beraikan antara keduanya.” (al
Anbiya , 30 )
“Dan
langit Aku bangun dengan kekuasaan Ku, dan Aku meluaskannya “( adz Dzariyat,47 )
“Mampukah
kamu menandingi penciptaan alam semesta dengan langit dan strukturnya. Ia (Allah
) kembangkan terus dengan seluruh gejalanya . (an Nazi’at , 27 – 28 )
“Apakah
mereka tak melihat awan, bagaimana diciptakan; dan langit, bagaimana
ditinggikan ? “. (al Ghasyiyah , 17 , 18 )
Makna
kata-kata “dicerai-beraikan”, “meluaskan”,
“dikembangkan”, dan “ditinggikan” dalam orientasi arah ruang memiliki kesamaan
arti sebagaimana terjadinya suatu peristiwa ledakan (misalnya mercon, petasan).
Setiap material yang terlibat dalam suatu ledakan akan menjauhi titik awal
ledakan. Dalam ruang terbuka, tanpa adanya penghalang maka arah gerak yang
ditempuh material dimungkinkan ke semua arah dalam ruang; yaitu arah atas,
bawah, depan, belakang, samping kiri, samping kanan, atau secara awam dapat
dinyatakan dalam sebutan delapan penjuru.
Jarak yang ditempuh seluruh materi yang bergerak membangun suatu ruang.
Memang jarak tempuh setiap material yang terlempar oleh suatu ledakan belum
tentu sama. Apabila material yang terlempar ke semua arah serba sama, atau
homogen, secara ideal ruang yang berbentuk ruang bola.
Pada
ayat-ayat lain dinyatakan konsep tentang waktu dari proses pembentukan alam
semesta, yang antara lain :
“Dialah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa ; kemudia Dia bersemayam diatas Arsy. Dia mengetahui apa
yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari
langit dan apa yang naik kesana. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada .
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al
Hadiid, S 57 , ayat 4).
Dari
pemahaman ilmu pengetahuan, pengertian enam masa adalah proses pembentukan alam
semesta yang diperkirakan berupa tahap-tahap berikut :
1. Tahap
Lamda Cold Dark Matter (Lamda-CDM), yaitu sejak awal ledakan yang menghamburkan
quark-quark sebagai bahan baku alam semesta. Usia “Debu quark” ini diperkirakan
sampai sampai 10-12 detik sesudah ledakan. Pada masa ini diperkirakan
sudah muncul keluarga “Lepton” yang terdiri dari electron-elektron dan
neutrino.
2. Tahap
Hadron , yaitu massa penyatuan sebagian quark berupa pembentukan antara lain
proton dan netron sebagai bahan awal inti atom. Proses ini diperkirakan
berlangsung sampai 10-6 detik.
3. Tahap
pengelompokan proton dan netron menuju keadaan stabil sebagai cikal bakal inti
atom. Proses ini diperkirakan berlangsung mulai usia beberapa detik sampai 350.000
tahunan.
4. Tahap
rekombinasi atau penggabungan proton, netron dan electron, serta munculnya photon
(cahaya) pembentukan atom-atom sederhana seperti, Hidrogen, Helium, Lithium,
dan Berilium dari inti-inti yang berserikat dengan electron-elektron. Proses
ini diperkirakan berlangsung sampai usia 300 juta tahunan . Sampai dengan tahap
4 ini alam semesta masih berupa “kabut” homogen, sehingga bentuknya disebut
sebagai gelembung univers, dan masa ini disebut sebagai masa gelap.
5. Tahap
berikutnya kabut-kabut yang ada bergerombol membentuk kesatuan-kesatuan super
raksasa kabut sebagai cikal bakal galaksi-galaksi. Proses ini diperkirakan
berlangsung sampai usia alam semesta mencapai 480 juta tahunan.
6. Dalam
setiap kelompok kabut galaksi lahirlah bentuk-bentuk semi padat yang dikenal
saat ini sebagai bintang-bintang. Sekaligus melahirkan benda-benda langit
lainnya seperti planet-planetnya. Dalam system tata surya kita muncul
calon-calon planet antara lain Merkurius, Venus, Mars, Saturnus , Uranus, dan
juga bumi. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai usia alam semesta
mencapai 750 juta tahunan.
Sudah
barang tentu alam semesta sampai usia 750 juta tahun, bumi belum terbentuk
padat sebagai benda langit yang padat berpenghuni. Setelah usia sekitar 14,7
miliar tahunan diperkirakan bumi baru dihuni mahluk hidup.
Sesuai
dengan pemahaman tentang bentuk ruang yang tergambar dari konsep ini , apakah
Arsy merupakan suatu tempat , sebagaimana kita tinggal pada suatu rumah di daerah
tertentu di muka bumi ini ? Mengingat usia alam semesta yang diperkirakan telah
mencapai miliaran tahun dan selama itu pula ruang alam semesta berkembang
dengan laju mendekati kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km/det; pada jarak berapa
tepi terjauh alam semesta saat ini ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar