Sabtu, 11 Mei 2013

7. Al Qur’an tentang Alam Semesta



Pola fikir manusia dengan data-data hasil pengamatannya mencoba merumuskan tentang bagaimana proses penciptaan alam semesta terjadi. Diantara berbagai model dan teori yang dikemukakan, salah satu diantaranya ada yang merumuskan berupa “Peristiwa” ledakan dahsyat (“Big Bang”). Teori Big Bang menggambarkan bahwa alam semesta dilahirkan melalui suatu ledakan dari sesuatu yang sangat massif / padat. Semua dari sesuatu yang masif ini terlempar menjauhi titik awal ledakkan, sebagaimana layaknya semua materi yang terlempar dari sebuah petasan yang meledak.
Mengapa masih ada yang tidak mengakui sama sekali atau hanya sebagian yang diakuinya dari perumusan pola fikir ini ?.
Polemik tentang penciptaan alam semesta muncul bukan sekedar pada peristiwa ledakannya semata. Pengkajian peristiwa ini berkembang pada berbagai sifat dan perilaku yang terkait di dalamnya; antara lain tentang pemahaman konsep ruang dan waktu, proses kelahiran benda-benda langit, termasuk bumi, matahari, serta berbagai proses lain yang menyertainya.
Fakta nyata yang telah diketahui adalah dalam alam semesta terdapat benda-benda langit yang tak terhitung jumlahnya. Bumi tempat kita tinggal berupa bola yang berdiameter sekitar 12.725 Km, hanya sekitar seperseratus dari besarnya matahari. Jarak antara bumi dan matahari dihitung oleh para ahli sebesar 149.600.000 km ditempuh oleh cahaya hanya dalam waktu sekitar 8 menit dan 15 detik saja. Dapat dikatakan bumi laksana sebutir debu melayang di udara. Matahari dalam ilmu Astronomi disebut sebagai salah satu keluarga bintang yang bertaburan dan berkelompok-kelompok di dalam alam semesta.
Kelompok bintang-bintang yang berdekatan membentuk rasi bintang.  Kelompok-kelompok bintang berada dalam suatu kumpulan yang disebut galaksi, tak terhitung banyaknya galaksi-galaksi.  Ditaksir, di alam semesta terdapat sekitar 10.000.000.000 galaksi.  Galaksi tempat bumi berada dinamai Bimasakti.  Orang memperkirakan dalam Galaksi - Bimasakti ini terdapat tak kurang dari 100.000.000.000 buah bintang. Atas dasar pengetahuan ini, dapatkah dibayangkan berapa buah bintang yang ada di seluruh alam semesta ini ?.  
Gambaran ruang, atau seberapa besar alam semesta ini, mari kita tata dalam ukuran tubuh kita. Tinggi tubuh kita sekitar 2 m, dan langkah kita sekitar 60 cm = 0,6 m. Pulau Jawa yang panjangnya sekitar 1.000 km = 1.000.000 m, ditempuh perjalanan darat naik kereta api sekitar 12 jam, melelahkan sekali. Jarak ini bila ditempuh oleh pesawat terbang paling cepat sekitar 1 jam perjalanan. Bayangkan, panjang jarak pulau Jawa hanya ditempuh cahaya hanya sekitar 0,003 detik saja. Jarak yang ditempuh oleh perjalanan cahaya sering dipakai sebagai satuan jarak dalam alam semesta yang demikian jauhnya, sehingga satuan yang dipakai dalam sebutan Tahun Cahaya, yaitu jarak yang ditempuh cahaya selama setahun.
Satu detik, cahaya menempuh jarak 300.000.000 meter. Artinya, dalam satu detik saja cahaya dapat menempuh perjalanan lebih dari 100 kali pulang pergi dari ujung barat sampai ujung timur Negara Indonesia.  Padahal kemampuan tercepat manusia terbang dengan pesawat komersial masih di bawah 350 meter per detiknya ; atau untuk menempuh dari ujung ke ujung negara Indonesia saja masih diperlukan seperempat hari.
Apabila dinyatakan dalam satuan ukuran Kilo meter (Km) atau Ribuan meter, jarak satu Tahun Cahaya adalah sekitar 9.500.000.000.000 Km. Para ahli telah memberikan data bahwa bintang Alfa Centauri, sebagai bintang terdekat dengan Matahari, berjarak sekitar 4,3 Tahun Cahaya.  Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa luas banyak diantaranya yang berjarak jutaan Tahun Cahaya dari sistim tatasurya ini.
Konsep teori Big Bang mengarahkan kita pada suatu kerangka fikiran bahwa galaksi-galaksi tersebut bergerak menjauhi "titik awal ledakan" (yaitu "tempat" saat pertama alam semesta diciptakan). Kecepatan gerak seluruh “material” alam semesta   ini sangat tinggi, karena bergerak di dalam ruang hampa dan tanpa pengaruh berarti dari material lainnya; hingga bintang-bintang bergerak menjauhi titik awal ledakan mencapai kecepatan sebesar 100.000 km per detiknya.  Dengan demikian, dapat disimpulkan perilaku alam semesta ini dalam ukuran atau bentuknya laksana sebuah balon yang ditiup dan membesar secara terus-menerus dengan jari-jarinya setiap detik bertambah besar 100.000 km.
Dari pemahaman model tentang alam semesta yang terus berkembang / membesar ini saja menunjukkan betapa kecil ukuran dan kemampuan manusia untuk menjangkau luasnya ruang alam semesta. Secara fisik, setidaknya sampai saat ini, tak ada kendaraan yang mampu dibuat agar dapat menjangkau tepi alam semesta. Besarnya alam semesta yang tak terbayangkan oleh keterbatasan manusia menjadi model saintifik hingga saat ini belum ada yang menyangkal keabsahannya. 
Sebagaimana dituliskan pada bagian awal tulisan ini, memang masih ada sebagian ilmuwan yang meragukan tentang teori Big Bang. Sebagai seorang muslim perlu dilihat referensi yang kita yakini dan tak pernah diragukan lagi keabsahannya, yaitu al Qur’an. Dengan symbol kata yang dekat terhadap substansi pembahasan ini, bagaimanakah al Qur’an menjelaskan tentang alam semesta ini ?. Setidaknya beberapa ayat yang dapat dinukilkan dari al Qur’an menyatakan beberapa hal berikut :
 Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang, dan dijadikan padanya matahari yang bersinar dan bulan bercahaya “.  ( al Furqan , 61 )
 Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi (alam semesta) itu sebelumnya keduanya adalah satu yang padat, kemudian Kami cerai-beraikan antara keduanya.” (al Anbiya , 30 )
“Dan langit Aku bangun dengan kekuasaan Ku, dan Aku meluaskannya “( adz Dzariyat,47 )
“Mampukah kamu menandingi penciptaan alam semesta dengan langit dan strukturnya. Ia (Allah ) kembangkan terus dengan seluruh gejalanya . (an Nazi’at , 27 – 28 )
“Apakah mereka tak melihat awan, bagaimana diciptakan; dan langit, bagaimana ditinggikan ? “. (al Ghasyiyah , 17 , 18 )
Makna kata-kata “dicerai-beraikan”,  meluaskan”, “dikembangkan”, dan “ditinggikan  dalam orientasi arah ruang memiliki kesamaan arti sebagaimana terjadinya suatu peristiwa ledakan (misalnya mercon, petasan). Setiap material yang terlibat dalam suatu ledakan akan menjauhi titik awal ledakan. Dalam ruang terbuka, tanpa adanya penghalang maka arah gerak yang ditempuh material dimungkinkan ke semua arah dalam ruang; yaitu arah atas, bawah, depan, belakang, samping kiri, samping kanan, atau secara awam dapat dinyatakan dalam sebutan delapan penjuru.  Jarak yang ditempuh seluruh materi yang bergerak membangun suatu ruang. Memang jarak tempuh setiap material yang terlempar oleh suatu ledakan belum tentu sama. Apabila material yang terlempar ke semua arah serba sama, atau homogen, secara ideal ruang yang berbentuk ruang bola.
Pada ayat-ayat lain dinyatakan konsep tentang waktu dari proses pembentukan alam semesta, yang antara lain :
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa ; kemudia Dia bersemayam diatas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kesana. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada . Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al Hadiid, S 57 , ayat 4).
Dari pemahaman ilmu pengetahuan, pengertian enam masa adalah proses pembentukan alam semesta yang diperkirakan berupa tahap-tahap berikut :
1.      Tahap Lamda Cold Dark Matter (Lamda-CDM), yaitu sejak awal ledakan yang menghamburkan quark-quark sebagai bahan baku alam semesta. Usia “Debu quark” ini diperkirakan sampai sampai 10-12 detik sesudah ledakan. Pada masa ini diperkirakan sudah muncul keluarga “Lepton” yang terdiri dari electron-elektron dan neutrino.
2.      Tahap Hadron , yaitu massa penyatuan sebagian quark berupa pembentukan antara lain proton dan netron sebagai bahan awal inti atom. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai 10-6 detik.
3.      Tahap pengelompokan proton dan netron menuju keadaan stabil sebagai cikal bakal inti atom. Proses ini diperkirakan berlangsung mulai usia beberapa detik sampai 350.000 tahunan.
4.      Tahap rekombinasi atau penggabungan proton, netron dan electron, serta munculnya photon (cahaya) pembentukan atom-atom sederhana seperti, Hidrogen, Helium, Lithium, dan Berilium dari inti-inti yang berserikat dengan electron-elektron. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai usia 300 juta tahunan . Sampai dengan tahap 4 ini alam semesta masih berupa “kabut” homogen, sehingga bentuknya disebut sebagai gelembung univers, dan masa ini disebut sebagai masa gelap.
5.      Tahap berikutnya kabut-kabut yang ada bergerombol membentuk kesatuan-kesatuan super raksasa kabut sebagai cikal bakal galaksi-galaksi. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai usia alam semesta mencapai 480 juta tahunan.
6.      Dalam setiap kelompok kabut galaksi lahirlah bentuk-bentuk semi padat yang dikenal saat ini sebagai bintang-bintang. Sekaligus melahirkan benda-benda langit lainnya seperti planet-planetnya. Dalam system tata surya kita muncul calon-calon planet antara lain Merkurius, Venus, Mars, Saturnus , Uranus, dan juga bumi. Proses ini diperkirakan berlangsung sampai usia alam semesta mencapai 750 juta tahunan.
Sudah barang tentu alam semesta sampai usia 750 juta tahun, bumi belum terbentuk padat sebagai benda langit yang padat berpenghuni. Setelah usia sekitar 14,7 miliar tahunan diperkirakan bumi baru dihuni mahluk hidup.
Sesuai dengan pemahaman tentang bentuk ruang yang tergambar dari konsep ini , apakah Arsy merupakan suatu tempat , sebagaimana kita tinggal pada suatu rumah di daerah tertentu di muka bumi ini ? Mengingat usia alam semesta yang diperkirakan telah mencapai miliaran tahun dan selama itu pula ruang alam semesta berkembang dengan laju mendekati kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km/det; pada jarak berapa tepi terjauh alam semesta saat ini ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar