Sabtu, 04 Mei 2013

4.2. Spektrum ukuran baik

“Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu dalam sifat dengan ukurannya. Dan Aku tetapkan hanya sekali dalam waktu sekejap.”(Al-Qamar:49 - 50).
“Kepunyaan Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia tetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya.” (al-Furqan : 2).
Firman Allah tersebut menyiratkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini dibangun oleh sifat-sifat. Secara sepintas telah diketahui bahwa kambing berbeda dengan ayam, gajah berbeda dengan manusia, batu berbeda dengan kapur tulis, berbeda dengan kayu, berbeda dengan air, dan seterusnya. Perbedaan antara satu nama atau sebutan dengan lainnya karena mereka berbeda sifatnya. Sifat-sifat sesuatu tampil menjadi ciri (identitas) yang khas atau unik, sebagai sesuatu yang lain dari lainnya. Sesuatu dapat dibedakan dari yang lainnya karena kepemilikan sifatnya. Kita mengenal ada sifat kebendaan (materi), ada sifat warna, ada sifat panjang, ada sifat waktu, ada sifat listrik dan seterusnya. Selain itu, ada batu yang kecil, ada yang besar, ada yang sedang, demikian pula untuk sifat yang lain. Dua buah benda akan dinyatakan berbeda karena pada masing-masingnya selalu ada paling tidak satu sifat yang berbeda padanya. Misalnya berbeda sifat warna, ukuran, bau, ’kedudukan’ atau ’tempat’ dalam ruang.
Segala sesuatu sifat dengan keadaannya tidak lepas dari dukungan atau bantuan keberadaan sifat lainnya. Keberadaan batu pada suatu tempat dimungkinkan karena keberadaan benda lain disekitarnya. Keberadaan bulan pada suatu tempat dimungkinkan karena adanya bumi, planet-planet lain, matahari dan lain sebagainya.  Setiap sifat memiliki tingkatan, atau ukuran yang berbeda-beda pula. Sifat kedudukan atau jarak ada yang sangat dekat, dekat, jauh dan sangat jauh. Warna biru , ada yang biru muda, biru langit, biru benhur, biru tua , dan sebagainya. Kadar  dari setiap sifat tertentu dalam membangun suatu keadaan atau sifat lain yang lebih banyak. Kebutuhan terhadap sesuatu kadar atau tingkatan sifat tertentu itulah yang pada kenyataannya menentukan keharmonisan, keserasian atau ketidak harmonisan.
Makhluk yang memiliki kemampuan tertinggi dalam memilih dan memilah terhadap sesuatu keinginan adalah manusia. Pilihan muncul, karena setidaknya di dunia ini terdapat lebih dari satu alternatif, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Diantara berbagai alternatif yang ada, selalu hadir dengan perbedaan antara satu dengan lainnya. Ambillah sebagai contoh buah mangga, terdapat banyak jenis buah mangga, ada mangga gedong, ada mangga arumanis, ada mangga golek, ada mangga lali-jiwo, ada mangga kuweni dan sebagainya. Jumlah buah mangga arumanis yang ada dihadapan kita tidak hanya satu, lebih dari sepuluh, bahkan lebih dari sepuluh truk pada saat musimnya.  Buah mangga yang bergelantungan pada satu pohonpun berbagai bentuk dan rasanya, ada yang bulat, ada yang lonjong; ada yang masih muda dan masam, namun banyak yang lebih tua, ranum dan manis. Ada buah yang mulus dan harum, namun tidak jarang pula ada yang busuk dan berulat.
Manusia selalu berkeinginan mendapatkan segala sesuatu dengan kualitas terbaik dari semua kebutuhannya. Apapun ragam bentuk keinginannya, keinginan untuk makan, keinginan  memiliki rumah, keinginan dalam kesehatan, keinginan dalam berteman, keinginan dalam penampilan dan lain sebagainya, semua ingin yang terbaik kualitasnya. Mahluk-mahluk lain, hampir semuanya tidaklah seperti itu, mereka mendapatkan yang buruk menurut ukuran manusia. Tumbuhan, bahkan hewan yang dapat bergerak sekalipun mendapatkan kualitas yang buruk. Upaya mereka mencari sesuatu dalam rangka memenuhi tuntutan hidup sekedarnya saja. Seolah-olah mereka merasa cukup dengan apapun yang ada dihadapannya. Sering kali mahluk lain mendapatkan sisa atau bahkan tidak jarang mereka mendapatkan dari sesuatu yang telah dibuang manusia.
Manusia memiliki kemampuan menakar tidak sekedar ukuran terbaik dari apa yang diperolehnya saja, tetapi juga mampu menimbang terhadap baik dalam cara memperolehnya. Tidak hanya itu, manusia juga mampu mengkaji keinginannya dalam hal baik. Baik bagi lingkungan dan baik dalam proses untuk mendapatkannya. Dalam hal inilah makna baik tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, akan tetapi juga baik menurut orang lain, dan juga baik bagi orang lain, serta lingkungannya. Cakupan baik dalam lingkup yang luas, dalam arti meliputi kualitas baik bagi keluarganya, lebih luas lagi baik bagi tetangganya, baik bagi temannya, dan seterusnya yang dapat dijangkau dalam dimensi ruang.
Manusia, dengan akal budinya, tidak hanya mengukur kebaikan untuk sekarang, dalam lingkup saat ini saja. Manusia menginginkan kebaikan untuk waktu-waktu mendatang. Mereka memiliki kemampuan merancang agar dapat memperoleh kebaikan masa remajanya , kebaikan dalam masa tuanya, kebaikan bagi anak keturunannya. Manusia mempunyai harapan dan rancangan agar apa yang ditinggalkannya dapat memiliki makna dan manfaat kebaikan bagi masa depan. Kebaikan yang bersifat luas, yaitu kebaikan peradaban masa depan.
Manusia juga mampu mengukur terhadap kesiapan atas upaya untuk mendapatkan keinginannya. Seberapa tinggi tingkat keinginan terhadap sesuatu yang ada dalam benaknya. Seberapa kuat motivasi atau semangat untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Seberapa serius manusia menekuni permasalahan dan mengatasi hambatan yang dihadapi dalam memperjuangkan keinginannya.
Manusia mengenal tingkatan kualitas atau mutu, sebagai ukuran yang baik menurut dirinya. Tingkatan mutu yang tidak hanya ada dalam dua tingkatan baik dan buruk saja. Tingkatan yang dikenal manusia lebih cermat lagi seperti misalnya : mulai dari tingkatan yang paling buruk sampai yang paling baik. Ada yang buruk sekali, ada yang buruk, ada yang agak baik, ada yang baik, dan ada yang paling baik. Dikembangkan melalui logika yang lebih luas lagi, dapat diberikan dalam tingkat ukuran bilangan. Artinya, untuk menyatakan tingkatan baik dan buruk, antara baik dan buruk terdapat tingkatan sangat banyak sekali, sebanyak nilai dari bilangan itu sendiri.
Untuk menyatakan ketidak-mampuan karena berada diluar jangkauan kemampuan manusia dalam menakar sesuatu nilai sering digunakan istilah tak berhingga.  Ada bilangan yang bernilai tak berhingga besarnya, ada juga bilangan yang bernilai tak berhingga kecilnya, disebut bilangan hampir nol. Dari pengertian ini nilai bilangan dikenal dari 0 (nol) terus bertambah sampai tak berhingga. Demikian pula ada tak berhingga bilangan dari 0 (nol) terus turun (negatip) sampai tak berhingga. Ada tak berhingga tingkatan yang tak mungkin diukur dan diterapkan oleh manusia. Batas bilangan dapat dinyatakan mulai dari negatif tak berhingga sampai positif tak berhingga. Tingkat nilai bilangan tidak hanya ada untuk ukuran yang dinyatakan oleh nilai bilangan bulat saja. Kenyataan menunjukkan pula bahwa antara penggalan nilai dari 0 (nol) ke 1 (satu) terdapat tak berhingga banyaknya tingkatan nilai bilangan pecahan. Sebagai contoh dikenal nilai-nilai : 0,12345….... , 0,25678365 …... , 0,7893534…….. dan seterusnya, yang tak akan mungkin dituliskan seluruhnya. Presentasi setiap nilai ini dinyatakan sebagai suatu titik dalam garis. Para pembaca dipersilakan untuk menetapkan ada berapa titik dalam garis bilangan tersebut sebagai perwakilan tingkatan nilai yang ada.
 Ketika manusia mengatakan sesuatu baik, terdapat banyak dimensi yang perlu dipertimbangkan untuk bisa menyatakan sesuatu itu baik. Ambilah sebagai contoh sederhana : ketika ingin menyatakan keadaan suatu kue disebut baik. Kue yang baik, mungkin karena baik bentuknya, mungkin karena baik warnanya, mungkin baik karena rasanya, mungkin baik karena kandungan nutrisi atau vitamin atau mineral yang ada didalamnya. Ada kue yang dinyatakan baik bentuknya, dan juga baik warnanya; akan tetapi kandungan gizinya dinyatakan tidak baik. Mungkin kandungan-kandungan itu malah membahayakan dan dipandang sangat buruk bagi manusia. Demikian pula misalnya suatu pakaian dikatakan baik, mungkin karena jahitannya, mungkin karena modelnya, mungkin baik dalam artian corak warna, mungkin baik dalam bentuk-bentuk dan lain sebagainya.
Ketidakmungkinan manusia mengukur secara tepat dan akurat dalam semua dimensi atau aspek yang ada pada suatu keadaan, secara eksplisit menuntun pada suatu kesadaran agar manusia mawas diri, dan bersikap bijak. Sehingga setiap pembenaran atau justifikasi yang dilakukan terhadap suatu masalah tidak mengangkat diri pada ranah ketakaburan / kesombongan yang menjadikan penilaian tidak akurat.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar