“Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu dalam sifat dengan ukurannya. Dan Aku
tetapkan hanya sekali dalam waktu sekejap.”(Al-Qamar:49 - 50).
“Kepunyaan Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak
mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya dan Dia telah
menciptakan segala sesuatu dan Dia tetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya.” (al-Furqan
: 2).
Firman
Allah tersebut menyiratkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini dibangun
oleh sifat-sifat. Secara sepintas telah diketahui bahwa kambing berbeda dengan
ayam, gajah berbeda dengan manusia, batu berbeda dengan kapur tulis, berbeda
dengan kayu, berbeda dengan air, dan seterusnya. Perbedaan antara satu nama
atau sebutan dengan lainnya karena mereka berbeda sifatnya. Sifat-sifat sesuatu
tampil menjadi ciri (identitas) yang khas atau unik, sebagai sesuatu yang lain
dari lainnya. Sesuatu dapat dibedakan dari yang lainnya karena kepemilikan
sifatnya. Kita mengenal ada sifat kebendaan (materi), ada sifat warna, ada
sifat panjang, ada sifat waktu, ada sifat listrik dan seterusnya. Selain itu,
ada batu yang kecil, ada yang besar, ada yang sedang, demikian pula untuk sifat
yang lain. Dua buah benda akan dinyatakan berbeda karena pada masing-masingnya
selalu ada paling tidak satu sifat yang berbeda padanya. Misalnya berbeda sifat
warna, ukuran, bau, ’kedudukan’ atau ’tempat’ dalam ruang.
Segala
sesuatu sifat dengan keadaannya tidak lepas dari dukungan atau bantuan
keberadaan sifat lainnya. Keberadaan batu pada suatu tempat dimungkinkan karena
keberadaan benda lain disekitarnya. Keberadaan bulan pada suatu tempat dimungkinkan
karena adanya bumi, planet-planet lain, matahari dan lain sebagainya. Setiap sifat memiliki tingkatan, atau ukuran
yang berbeda-beda pula. Sifat kedudukan atau jarak ada yang sangat dekat,
dekat, jauh dan sangat jauh. Warna biru , ada yang biru muda, biru langit, biru
benhur, biru tua , dan sebagainya. Kadar
dari setiap sifat tertentu dalam membangun suatu keadaan atau sifat lain
yang lebih banyak. Kebutuhan terhadap sesuatu kadar atau tingkatan sifat
tertentu itulah yang pada kenyataannya menentukan keharmonisan, keserasian atau
ketidak harmonisan.
Makhluk
yang memiliki kemampuan tertinggi dalam memilih dan memilah terhadap sesuatu
keinginan adalah manusia. Pilihan muncul, karena setidaknya di dunia ini
terdapat lebih dari satu alternatif, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
Diantara berbagai alternatif yang ada, selalu hadir dengan perbedaan antara
satu dengan lainnya. Ambillah sebagai contoh buah mangga, terdapat banyak jenis
buah mangga, ada mangga gedong, ada mangga arumanis, ada mangga golek, ada
mangga lali-jiwo, ada mangga kuweni dan sebagainya. Jumlah buah mangga arumanis
yang ada dihadapan kita tidak hanya satu, lebih dari sepuluh, bahkan lebih dari
sepuluh truk pada saat musimnya. Buah
mangga yang bergelantungan pada satu pohonpun berbagai bentuk dan rasanya, ada
yang bulat, ada yang lonjong; ada yang masih muda dan masam, namun banyak yang
lebih tua, ranum dan manis. Ada buah yang mulus dan harum, namun tidak jarang
pula ada yang busuk dan berulat.
Manusia
selalu berkeinginan mendapatkan segala sesuatu dengan kualitas terbaik dari
semua kebutuhannya. Apapun ragam bentuk keinginannya, keinginan untuk makan,
keinginan memiliki rumah, keinginan
dalam kesehatan, keinginan dalam berteman, keinginan dalam penampilan dan lain
sebagainya, semua ingin yang terbaik kualitasnya. Mahluk-mahluk lain, hampir
semuanya tidaklah seperti itu, mereka mendapatkan yang buruk menurut ukuran
manusia. Tumbuhan, bahkan hewan yang dapat bergerak sekalipun mendapatkan
kualitas yang buruk. Upaya mereka mencari sesuatu dalam rangka memenuhi
tuntutan hidup sekedarnya saja. Seolah-olah mereka merasa cukup dengan apapun
yang ada dihadapannya. Sering kali mahluk lain mendapatkan sisa atau bahkan
tidak jarang mereka mendapatkan dari sesuatu yang telah dibuang manusia.
Manusia
memiliki kemampuan menakar tidak sekedar ukuran terbaik dari apa yang
diperolehnya saja, tetapi juga mampu menimbang terhadap baik dalam cara
memperolehnya. Tidak hanya itu, manusia juga mampu mengkaji keinginannya dalam
hal baik. Baik bagi lingkungan dan baik dalam proses untuk mendapatkannya.
Dalam hal inilah makna baik tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, akan
tetapi juga baik menurut orang lain, dan juga baik bagi orang lain, serta
lingkungannya. Cakupan baik dalam lingkup yang luas, dalam arti meliputi
kualitas baik bagi keluarganya, lebih luas lagi baik bagi tetangganya, baik
bagi temannya, dan seterusnya yang dapat dijangkau dalam dimensi ruang.
Manusia,
dengan akal budinya, tidak hanya mengukur kebaikan untuk sekarang, dalam lingkup
saat ini saja. Manusia menginginkan kebaikan untuk waktu-waktu mendatang.
Mereka memiliki kemampuan merancang agar dapat memperoleh kebaikan masa
remajanya , kebaikan dalam masa tuanya, kebaikan bagi anak keturunannya.
Manusia mempunyai harapan dan rancangan agar apa yang ditinggalkannya dapat
memiliki makna dan manfaat kebaikan bagi masa depan. Kebaikan yang bersifat
luas, yaitu kebaikan peradaban masa depan.
Manusia
juga mampu mengukur terhadap kesiapan atas upaya untuk mendapatkan
keinginannya. Seberapa tinggi tingkat keinginan terhadap sesuatu yang ada dalam
benaknya. Seberapa kuat motivasi atau semangat untuk mendapatkan sesuatu yang
diinginkannya. Seberapa serius manusia menekuni permasalahan dan mengatasi
hambatan yang dihadapi dalam memperjuangkan keinginannya.
Manusia
mengenal tingkatan kualitas atau mutu, sebagai ukuran yang baik menurut
dirinya. Tingkatan mutu yang tidak hanya ada dalam dua tingkatan baik dan buruk
saja. Tingkatan yang dikenal manusia lebih cermat lagi seperti misalnya : mulai
dari tingkatan yang paling buruk sampai yang paling baik. Ada yang buruk
sekali, ada yang buruk, ada yang agak baik, ada yang baik, dan ada yang paling
baik. Dikembangkan melalui logika yang lebih luas lagi, dapat diberikan dalam
tingkat ukuran bilangan. Artinya, untuk menyatakan tingkatan baik dan buruk,
antara baik dan buruk terdapat tingkatan sangat banyak sekali, sebanyak nilai
dari bilangan itu sendiri.
Untuk
menyatakan ketidak-mampuan karena berada diluar jangkauan kemampuan manusia
dalam menakar sesuatu nilai sering digunakan istilah tak berhingga. Ada bilangan yang bernilai tak berhingga
besarnya, ada juga bilangan yang bernilai tak berhingga kecilnya, disebut
bilangan hampir nol. Dari pengertian ini nilai bilangan dikenal dari 0 (nol)
terus bertambah sampai tak berhingga. Demikian pula ada tak berhingga bilangan
dari 0 (nol) terus turun (negatip) sampai tak berhingga. Ada tak berhingga
tingkatan yang tak mungkin diukur dan diterapkan oleh manusia. Batas bilangan
dapat dinyatakan mulai dari negatif tak berhingga sampai positif tak berhingga.
Tingkat nilai bilangan tidak hanya ada untuk ukuran yang dinyatakan oleh nilai
bilangan bulat saja. Kenyataan menunjukkan pula bahwa antara penggalan nilai
dari 0 (nol) ke 1 (satu) terdapat tak berhingga banyaknya tingkatan nilai
bilangan pecahan. Sebagai contoh dikenal nilai-nilai : 0,12345….... ,
0,25678365 …... , 0,7893534…….. dan seterusnya, yang tak akan mungkin
dituliskan seluruhnya. Presentasi setiap nilai ini dinyatakan sebagai suatu
titik dalam garis. Para pembaca dipersilakan untuk menetapkan ada berapa titik
dalam garis bilangan tersebut sebagai perwakilan tingkatan nilai yang ada.
Ketika
manusia mengatakan sesuatu baik, terdapat banyak dimensi yang perlu
dipertimbangkan untuk bisa menyatakan sesuatu itu baik. Ambilah sebagai contoh
sederhana : ketika ingin menyatakan keadaan suatu kue disebut baik. Kue yang
baik, mungkin karena baik bentuknya, mungkin karena baik warnanya, mungkin baik
karena rasanya, mungkin baik karena kandungan nutrisi atau vitamin atau mineral
yang ada didalamnya. Ada kue yang dinyatakan baik bentuknya, dan juga baik
warnanya; akan tetapi kandungan gizinya dinyatakan tidak baik. Mungkin
kandungan-kandungan itu malah membahayakan dan dipandang sangat buruk bagi
manusia. Demikian pula misalnya suatu pakaian dikatakan baik, mungkin karena
jahitannya, mungkin karena modelnya, mungkin baik dalam artian corak warna,
mungkin baik dalam bentuk-bentuk dan lain sebagainya.
Ketidakmungkinan
manusia mengukur secara tepat dan akurat dalam semua dimensi atau aspek yang
ada pada suatu keadaan, secara eksplisit menuntun pada suatu kesadaran agar manusia
mawas diri, dan bersikap bijak. Sehingga setiap pembenaran atau justifikasi yang
dilakukan terhadap suatu masalah tidak mengangkat diri pada ranah ketakaburan /
kesombongan yang menjadikan penilaian tidak akurat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar