Selasa, 07 Mei 2013

5. Does God exist ?



Pertanyaan yang dipakai sebagai judul tulisan diatas, popular bukan karena tulisan Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow (2010) semata. Kalimat ini sempat juga populer karena pertanyaan Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis (1827) terhadap Pierre-Simon Laplace. Makna dari judul tersebut terlontar berulang-ulang dalam sejarah kemanusiaan. Dapat dikatakan sudah ada sejak manusia hadir di Bumi ini. Nabi Adam a.s dan ibu Hawa dikeluarkan dari Surga, serta hikayat Kabil dan Habil yang menunjukkan awal manusia terperdaya iblis untuk melupakan keberadaan Allah swt. Cerita para Nabi membuktikan, bagaimana nabi Ibrahim a.s yang telah memperingatkan penguasa Namrud, atau nabi Musa a.s yang memperingatkan Fir’aun, nabi Isa a.s yang telah memperingatkan kaisar Romawi, nabi Muhammad s.a.w yang telah memperingatkan masyarakat jahiliyah Arab. Semua itu menunjukkan bukti sejarah perjalanan kemanusiaan yang telah mengabaikan keberadaan dan Mahaperan Allah swt.
Mengapa peringatan-peringatan itu diperlukan ?
Peran peringatan-peringatan yang ada tidak semata sebagai proses evaluasi untuk mengukur kualitas / nilai kemanusian yang ada pada saat itu; namun juga berperan sebagai petunjuk arah (guidance of values) bagi perkembangan-perkembangan selanjutnya.
Pertanyaan ini diangkat karena belakangan ini kembali hangat dibicarakan dengan adanya  tulisan-tulisan Stephen Hawking. Sebagai seorang saintis / ilmuwan yang dikenal di seantero bumi, buku-bukunya telah menggugah tidak saja ranah akal, tetapi juga menyentuh emosional dan ranah keyakinan. Terutama sekali buku Stephen Hawking yang mengungkapkan teori yang sangat filosofis, yaitu “Model-Dependent Realism”. Konsep teori tentang keilmualaman yang sangat mendasar, dipandang banyak pihak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan semua persoalan, termasuk tentang keyakinan ada atau tidak adanya Tuhan.
Lupa terhadap keberadaan Allah swt merupakan awal dari pengingkaran terhadap keberadaan Nya. Lupa sebagai lawan kata ingat, adalah tersembunyinya data dalam simpul syaraf otak yang tertumpuk mengendap di bawah sadar. Apabila tidak diangkat ke atas permukaan ingatan, dia akan bertambah dalam tertimbun berbagai ingatan dan kebiasaan lainnya.  Pada akhirnya akan makin sulit diangkat ke alam sadar yang menjadi keyakinan dan pola fikir serta pola tindaknya.
Mengangkat kembali ingatan ke atas permukaan kesadaran, terlebih lagi yang menjadi landasan keyakinan tidaklah mudah. Persoalan ini tidaklah sama dengan mengangkat barang yang tertimbun barang lainnya di bagian bawah gudang. Kegiatan yang harus dilakukan tidak cukup hanya dengan memindahkan ingatan-ingatan yang menindihnya, bahkan harus membuangnya jauh-jauh agar tidak menggangu proses pengingatan kembali keyakinan ini.
Stephen Hawking dalam teorinya menyatakan bahwa bagaimana keyakinan seseorang (hasil pemikiran) bergantung pada persepsi (hipotesa) yang dianutnya. Contoh sederhananya, kalau orang tersebut mempunyai hipotesa bahwa matahari mengelilingi bumi, maka itulah kenyataan yang ada sebagaimana yang dilihat dan dirasakan dalam hidupnya. Demikian pula sebaliknya apabila dia memegang hipotesa bahwa bumi yang mengelilingi matahari, maka itulah kenyataan dan pola hidup yang akan dijalaninya.
Penerapan dalam pemahaman keberadaan alam semesta, Hawking dan Mlodinow mengakui adanya hipotesa tentang alam semesta lain yang parallel dengan alam semesta yang dihuni ini. Alam semesta lain yang banyak disebut sebagai alam metafisik, parallel di luar alam semesta factual ini, tentunya hadir karena adanya hipotesa yang mendasari keberadaannya. Teori ini nampaknya berhenti sampai disini sehingga melahirkan kontroversi gagasan tentang keberadaan alam semesta, yang tentu saja bersama isinya. Karena landasan adanya alam semesta berkaitan erat dengan pertanyaan adakah Tuhan diantara kita, maka jawaban Hawking dan Mlodinow identik dengan jawaban Laplace terhadap pertanyaan Napoleon. Jawaban mereka adalah tergantung hipotesa yang anda pegang, ada atau tidak adanya alam metafisik, ada atau tidak adanya Tuhan tergantung hipotesa mana yang anda pegang.
Jawaban ini sesungguhnya sama saja dengan tidak memberikan jawaban yang tegas, jawaban yang tidak mengubah konsep yang ada; jawaban dari ilmuwan yang ragu-ragu dalam kebijakan / kearifan ilmunya. Suatu sikap yang mengandung nilai permisifistis, ragu-ragu sehingga tidak tegas dalam membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Sikap ini terurai dalam sikap-sikap berikut, yaitu : suatu sikap bijaksana dalam ketidakbijakan menyatakan yang benar, sikap parsialistis dalam suatu keterpaduan. (integralitas), dan sikap eksklusifistis (menyendiri) dalam suatu keutuhan (holistis), sikap kebimbangan (dikhotomistik) dalam ketaat-asasan , atau keajegan (consistency) ; yang semua itu merupakan sikap mendua (split personality).
Sudut pandang lain, sikap ini dapat menjadi pembenaran adanya paham Polytheistis (banyak Tuhan). Meskipun sudut pandang ini banyak dituduhkan sebagai perluasan yang ekstrim dari prinsip atau kaidah ilmiah, namun pandangan ini perlu dipertimbangkan sebagai suatu pola fikir yang tidak mustahil dianut banyak orang. 
Suatu berita menggembirakan dari sisi pencerahan teori Hawking, adanya tulisan dari Lê Nguyên Hoang, Bidang Applied Maths pada Polytechnique of Montreal.Engineer di Ecole Polytechnique, Perancis; yang menyatakan bahwa sesungguhnya pada suatu keadaan dimungkinkan terdapat banyak hipotesa. Pada pembahasan Hawking, tiap hipotesa melahirkan alam semesta (Universe); sehingga sesuai pemahaman Nguyen Hoang ada banyak alam semesta (multiverse) yang paralel. Karena yang ditinjau sama sebagai satu kehidupan, maka semua multiverse ini memiliki satu sumber. Sesungguhnya semua hipotesa tersebut pada akhirnya bermuara pada satu kebenaran. Konsep ini, memang tidak secara eksplisit menyatakan keberadaan Tuhan yang Esa secara utuh, setidaknya dapat diikuti sebagai landasan keimanan dalam menelusuri aspek empiric, atau bukti-bukti ilmu pengetahuan.
Kebenaran yang satu menjadi suatu rujukan ditengah berbagai nilai kerelatifan / kenisbian yang berkecamuk dalam kehidupan telah diakui keberadaannya; setidaknya oleh seorang ilmuwan. Sesungguhnya secara langsung maupun tidak langsung, Albert Einstein, seorang ilmuwan Yahudi, yang dipandang sebagai bapak revolusi ilmu pengetahuan melalui konsep / teori relativitasnya telah membuka wawasan dengan “Theory for everythings”nya. Teorinya yang menyatakan bahwa seluruh interaksi atau keberadaan sesuatu dimulai dari satu. Konsep ini yang kemudian melahirkan suatu konsep kelahiran alam semesta dengan sebutan “ The Big Bang Theory” ( Konsep Ledakan Dahsyat).
Suatu lukisan yang indah, tidak cukup indah bila hanya dipandang sekilas. Lukisan tersebut akan memiliki makna keindahan lebih lengkap, manakala diperhatikan lebih rinci / detail. Detail yang dimaksud dapat berupa bagian dari lukisan keseluruhan, seperti memandang lukisan Monalisa dilihat bagian tangannya, bagian matanya , bagian pakaiannya dan lain sebagainya. Detail lain dapat berbentuk pengerjaan atau prosesnya, seperti : tingkat kehalusan pekerjaan, tingkat kesulitan pengerjaan, bahan yang dipakai,  warna, akurasi, dan lain sebagainya. Dalam keterkaitannya disini, “Theory The Big Bang” tidak cukup diketahui sebagai suatu bentuk peristiwa ledakan maha dahsyat semata, akan lebih memberikan makna dan manfaat yang jauh lebih besar apabila diketahui lebih rinci dalam berbagai sifat dan perilaku yang mengiringinya.
“Theory The Big Bang” merupakan awal dan proses-proses selanjutnya dalam pembentukan alam semesta, termasuk di dalamnya terdapat manusia dengan proses dan perkembangan peradaban yang dibangunnya. Sesuai dengan hukum alam / Sunatullah, setiap proses yang dimaksud disini, bukan semata diartikan sebagai proses kelahiran yang diikuti pertumbuh-kembangan secara fisik, dan selanjutnya setelah mencapai titik kulminasi atau titik potensi tertinggi akan menurun dan diakhiri oleh kematian atau kehancuran semata; namun di dalamnya terdapat proses-proses yang bersifat normatif dari sisi emosional, moral dan keyakinan. Selain dari itu, meskipun bagian objek dan subjek yang terlibat dalam berbagai proses telah tiada, namun seluruh proses akan terus bergulir, yang dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Memahami apa dan mengapa semua berproses di dalam alam semesta, secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk pola fikir dan kesadaran atas keberadaan dan peran apa yang seharusnya dilaksanakan. Pemahaman yang utuh / kaffaah tentang teori ini sekaligus dapat membangun pribadi-pribadi muslim kaffah, masyarakat dan umat yang utuh (integrated) dan menyeluruh (holistic).
Sesuai konsep dan kerangka nilai yang dianut dalam rangkaian tulisan ini, pada bagian-bagian tulisan berikutnya akan dilihat pula sesuai dengan referensi yang telah ada.

Acuan :
·         http://www.science4all.org/members/le-nguyen-hoang, January 27th, 2013

1 komentar:

  1. Sebuah ilustrasi : tiga orang buta meneliti gajah, orang pertama meneliti secara lengkap dan detil akan tetapi hanya bagian belalainya saja, orang kedua meneliti hanya bagian telinganya saja, dan yang ketiga hanya bagian kakinya saja. Ketiganya secara meyakinkan membuktikan kebenaran akan teorinya dan memang tidak terbantah. Akan tetapi ketiganya tidak cukup untuk memberi kesimpulan tentang gajah yang sesungguhnya. Jadi untuk memahami ketuhanan diperlukan pemahaman ilmiah yang utuh menyeluruh dari berbagai aspek yang mungkin, tidak bisa diperoleh secara parsial.

    BalasHapus