Pandangan
(persepsi) seseorang terhadap apa yang ada di sekitarnya akan menjadi landasan
bagi pengambilan keputusan dalam hidupnya. Keputusan untuk memilih, atau tidak
memilih, keputusan untuk berbuat atau tidak berbuat, keputusan untuk tetap pada
keadaannya atau untuk mengubah keadaannya. Dalam selang waktu yang cukup lama,
dan dalam banyak keputusan-keputusan yang dipilih, bagi orang lain atau pihak
lain, semua itu sering menjadi pembenaran (justifikasi) ukuran terhadap
pribadi, watak dan tingkah atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang
dinyatakan sebagai orang pendiam, atau orang yang cerewet, atau dinyatakan
sebagai orang yang pemarah (temperamental) , atau orang yang sabar (patient) dan
pemaaf, orang yang ingin menang sendiri (egois), atau orang yang terbuka (open
mind), dan sebagainya didasarkan pada pilihan-pilihan yang telah diekspresikan
dalam kehidupan sehari-harinya.
Persepsi
terbentuk karena sejumlah pengetahuan, pengalaman atau kemampuan (potensi) yang
ada di dalam diri orang yang bersangkutan. Kapasitas, jenis dan jumlah
pengetahuan antara satu orang dengan yang lainnya belum tentu sama; oleh karena
itu ukuran pembenaran terhadap sesuatu antara seseorang dengan orang lainnya belum
tentu memiliki nilai yang persis sama, atau mutlak sama (absolute). Dengan lain
perkataan, rasanya sangat sulit untuk memperoleh suatu ukuran yang bersifat
mutlak terhadap pembenaran dengan menggunakan referensi dari manusia.
Terlebih
lagi bila yang ingin kita tinjau adalah tentang alam semesta beserta isinya.
Bukan hanya yang menyangkut ukuran besar atau luasnya saja, termasuk proses dan
berbagai aspek yang ada di dalamnya. Perdebatan yang sering terjadi , khususnya
dalam tataran ilmu pengetahuan, persepsi tentang alam semesta. Apakah alam
semesta ada yang menciptakan, ataukah tidak ada yang menciptakan, dia terbentuk
secara alamiah dalam suatu proses berkesinambungan. Kelompok yang menyatakan
bahwa alam semesta tidak ada yang menciptakan mengidentifikasikan diri
setidaknya bahwa “tidak ada mahluk (Tuhan) yang menciptakan alam semesta” ini.
Kalaupun ada tuhan, dia adalah bagian dari apa yang ada dari alam semesta. Dua
kutub pendapat yang cukup ekstrim ini muncul karena masing-masing selama ini
menggunakan referensi yang berbeda, setidaknya kelompok yang berpendapat bahwa
Tuhan yang Maha Pencipta tidak ada, mereka tidak dapat menerima al Qur’an
sebagai referensi (rujukan) argumentasi. Alam semesta yang demikian luas,
setidaknya diketahui bukan hanya terdiri dari tata surya, yaitu Matahari, Bulan
dan Bumi yang kita tempati ini saja. Bintang-bintang dan kumpulannya yang berjarak jutaan tahun cahaya terrekam
dengan jelas. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh perjalanan
cahaya dalam waktu satu tahun. Apabila dinyatakan dalam satuan meter adalah
jarak sejauh 1016 meter.
Alam
semesta , dengan segala isi atau penghuninya, sebagai ciptaan Allah swt yang maha
cermat dan akurat. Dalam berkomunikasi dengan manusia Allah swt menciptakan
mediator yang disebut sebagai Utusan (RasulNya). Oleh karena itu penulis
menggunakan referensi al Qur’an dan Hadist yang dicoba untuk dikembangkan
dengan fakta, data empirik, yang terkumpul dalam ilmu pengetahuan.
Bagaimana Allah swt menciptakan alam semesta,
akan dibahas dalam bagian yang lain dari rangkaian tulisan ini. Dalam rangka
penelusuran pemahaman penciptaan alam semesta beserta isinya Rasulallah saw
mengingatkan :” Tafaqarru fi halqillah , wa laa tafaqarru fi Dzaatihi,….”. Ini
sebagai referensi pertama yang setidaknya merupakan referensi dari RasulNya.
Susah pula kiranya apabila referensi ini ditolak. Referensi ini sesungguhnya sebagai pengakuan
kita terhadap otoritas Muhammad saw dalam menjelaskan berbagai fenomena
dinamika di alam semesta ini. Mengapa sebagai pengakuan otoritas ?. Karena
Muhammad saw, adalah penghubung dua dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi
kita (alam semesta beserta isinya) dengan dimensi supranatural. Pengakuan ,
bahkan pemahaman keberadaan dimensi supranatural ini penting diikut sertakan,
sebab bila tidak , maka apapun jawabannya akan timpang, atau tidak utuh lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar