Sabtu, 04 Mei 2013

4.1. Acuan pendapat (referensi)



Pandangan (persepsi) seseorang terhadap apa yang ada di sekitarnya akan menjadi landasan bagi pengambilan keputusan dalam hidupnya. Keputusan untuk memilih, atau tidak memilih, keputusan untuk berbuat atau tidak berbuat, keputusan untuk tetap pada keadaannya atau untuk mengubah keadaannya. Dalam selang waktu yang cukup lama, dan dalam banyak keputusan-keputusan yang dipilih, bagi orang lain atau pihak lain, semua itu sering menjadi pembenaran (justifikasi) ukuran terhadap pribadi, watak dan tingkah atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dinyatakan sebagai orang pendiam, atau orang yang cerewet, atau dinyatakan sebagai orang yang pemarah (temperamental) , atau orang yang sabar (patient) dan pemaaf, orang yang ingin menang sendiri (egois), atau orang yang terbuka (open mind), dan sebagainya didasarkan pada pilihan-pilihan yang telah diekspresikan dalam kehidupan sehari-harinya.
Persepsi terbentuk karena sejumlah pengetahuan, pengalaman atau kemampuan (potensi) yang ada di dalam diri orang yang bersangkutan. Kapasitas, jenis dan jumlah pengetahuan antara satu orang dengan yang lainnya belum tentu sama; oleh karena itu ukuran pembenaran terhadap sesuatu antara seseorang dengan orang lainnya belum tentu memiliki nilai yang persis sama, atau mutlak sama (absolute). Dengan lain perkataan, rasanya sangat sulit untuk memperoleh suatu ukuran yang bersifat mutlak terhadap pembenaran dengan menggunakan referensi dari manusia.
Terlebih lagi bila yang ingin kita tinjau adalah tentang alam semesta beserta isinya. Bukan hanya yang menyangkut ukuran besar atau luasnya saja, termasuk proses dan berbagai aspek yang ada di dalamnya. Perdebatan yang sering terjadi , khususnya dalam tataran ilmu pengetahuan, persepsi tentang alam semesta. Apakah alam semesta ada yang menciptakan, ataukah tidak ada yang menciptakan, dia terbentuk secara alamiah dalam suatu proses berkesinambungan. Kelompok yang menyatakan bahwa alam semesta tidak ada yang menciptakan mengidentifikasikan diri setidaknya bahwa “tidak ada mahluk (Tuhan) yang menciptakan alam semesta” ini. Kalaupun ada tuhan, dia adalah bagian dari apa yang ada dari alam semesta. Dua kutub pendapat yang cukup ekstrim ini muncul karena masing-masing selama ini menggunakan referensi yang berbeda, setidaknya kelompok yang berpendapat bahwa Tuhan yang Maha Pencipta tidak ada, mereka tidak dapat menerima al Qur’an sebagai referensi (rujukan) argumentasi. Alam semesta yang demikian luas, setidaknya diketahui bukan hanya terdiri dari tata surya, yaitu Matahari, Bulan dan Bumi yang kita tempati ini saja.  Bintang-bintang dan kumpulannya  yang berjarak jutaan tahun cahaya terrekam dengan jelas. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh perjalanan cahaya dalam waktu satu tahun. Apabila dinyatakan dalam satuan meter adalah jarak sejauh 1016 meter.
Alam semesta , dengan segala isi atau penghuninya, sebagai ciptaan Allah swt yang maha cermat dan akurat. Dalam berkomunikasi dengan manusia Allah swt menciptakan mediator yang disebut sebagai Utusan (RasulNya). Oleh karena itu penulis menggunakan referensi al Qur’an dan Hadist yang dicoba untuk dikembangkan dengan fakta, data empirik, yang terkumpul dalam ilmu pengetahuan.  
Bagaimana Allah swt menciptakan alam semesta, akan dibahas dalam bagian yang lain dari rangkaian tulisan ini. Dalam rangka penelusuran pemahaman penciptaan alam semesta beserta isinya Rasulallah saw mengingatkan :” Tafaqarru fi halqillah , wa laa tafaqarru fi Dzaatihi,….”. Ini sebagai referensi pertama yang setidaknya merupakan referensi dari RasulNya. Susah pula kiranya apabila referensi ini ditolak.  Referensi ini sesungguhnya sebagai pengakuan kita terhadap otoritas Muhammad saw dalam menjelaskan berbagai fenomena dinamika di alam semesta ini. Mengapa sebagai pengakuan otoritas ?. Karena Muhammad saw, adalah penghubung dua dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi kita (alam semesta beserta isinya) dengan dimensi supranatural. Pengakuan , bahkan pemahaman keberadaan dimensi supranatural ini penting diikut sertakan, sebab bila tidak , maka apapun jawabannya akan timpang, atau tidak utuh lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar