Pertanyaan
yang dipakai sebagai judul tulisan diatas, popular bukan karena tulisan Stephen Hawking dan Leonard
Mlodinow (2010) semata. Kalimat ini sempat juga populer karena pertanyaan
Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis (1827) terhadap Pierre-Simon Laplace. Makna
dari judul tersebut terlontar berulang-ulang dalam sejarah kemanusiaan.
Dapat dikatakan sudah ada sejak manusia hadir di Bumi ini. Nabi Adam a.s dan
ibu Hawa dikeluarkan dari Surga, serta hikayat Kabil dan Habil yang menunjukkan
awal manusia terperdaya iblis untuk melupakan keberadaan Allah swt. Cerita para
Nabi membuktikan, bagaimana nabi Ibrahim a.s yang telah memperingatkan penguasa
Namrud, atau nabi Musa a.s yang memperingatkan Fir’aun, nabi Isa a.s yang telah
memperingatkan kaisar Romawi, nabi Muhammad s.a.w yang telah memperingatkan
masyarakat jahiliyah Arab. Semua itu menunjukkan bukti sejarah perjalanan
kemanusiaan yang telah mengabaikan keberadaan dan Mahaperan Allah swt.
Mengapa
peringatan-peringatan itu diperlukan ?
Peran
peringatan-peringatan yang ada tidak semata sebagai proses evaluasi untuk
mengukur kualitas / nilai kemanusian yang ada pada saat itu; namun juga
berperan sebagai petunjuk arah (guidance of values) bagi
perkembangan-perkembangan selanjutnya.
Pertanyaan ini diangkat karena belakangan ini kembali hangat
dibicarakan dengan adanya tulisan-tulisan
Stephen Hawking. Sebagai seorang saintis / ilmuwan yang dikenal di seantero
bumi, buku-bukunya telah menggugah tidak saja ranah akal, tetapi juga menyentuh
emosional dan ranah keyakinan. Terutama sekali buku Stephen Hawking yang
mengungkapkan teori yang sangat filosofis, yaitu “Model-Dependent
Realism”. Konsep teori tentang keilmualaman yang sangat mendasar, dipandang
banyak pihak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan semua persoalan, termasuk
tentang keyakinan ada atau tidak adanya Tuhan.
Lupa
terhadap keberadaan Allah swt merupakan awal dari pengingkaran terhadap
keberadaan Nya. Lupa sebagai lawan kata ingat, adalah tersembunyinya data dalam
simpul syaraf otak yang tertumpuk mengendap di bawah sadar. Apabila tidak
diangkat ke atas permukaan ingatan, dia akan bertambah dalam tertimbun berbagai
ingatan dan kebiasaan lainnya. Pada
akhirnya akan makin sulit diangkat ke alam sadar yang menjadi keyakinan dan
pola fikir serta pola tindaknya.
Mengangkat
kembali ingatan ke atas permukaan kesadaran, terlebih lagi yang menjadi
landasan keyakinan tidaklah mudah. Persoalan ini tidaklah sama dengan
mengangkat barang yang tertimbun barang lainnya di bagian bawah gudang.
Kegiatan yang harus dilakukan tidak cukup hanya dengan memindahkan
ingatan-ingatan yang menindihnya, bahkan harus membuangnya jauh-jauh agar tidak
menggangu proses pengingatan kembali keyakinan ini.
Stephen
Hawking dalam teorinya menyatakan bahwa bagaimana keyakinan seseorang (hasil
pemikiran) bergantung pada persepsi (hipotesa) yang dianutnya. Contoh
sederhananya, kalau orang tersebut mempunyai hipotesa bahwa matahari
mengelilingi bumi, maka itulah kenyataan yang ada sebagaimana yang dilihat dan
dirasakan dalam hidupnya. Demikian pula sebaliknya apabila dia memegang
hipotesa bahwa bumi yang mengelilingi matahari, maka itulah kenyataan dan pola
hidup yang akan dijalaninya.
Penerapan
dalam pemahaman keberadaan alam semesta, Hawking dan Mlodinow mengakui adanya hipotesa tentang alam semesta lain
yang parallel dengan alam semesta yang dihuni ini. Alam semesta lain yang
banyak disebut sebagai alam metafisik, parallel di luar alam semesta factual
ini, tentunya hadir karena adanya hipotesa yang mendasari keberadaannya. Teori
ini nampaknya berhenti sampai disini sehingga melahirkan kontroversi gagasan
tentang keberadaan alam semesta, yang tentu saja bersama isinya. Karena
landasan adanya alam semesta berkaitan erat dengan pertanyaan adakah Tuhan
diantara kita, maka jawaban Hawking dan Mlodinow identik dengan jawaban Laplace terhadap pertanyaan
Napoleon. Jawaban mereka adalah tergantung hipotesa yang anda pegang, ada atau
tidak adanya alam metafisik, ada atau tidak adanya Tuhan tergantung hipotesa
mana yang anda pegang.
Jawaban ini sesungguhnya sama
saja dengan tidak memberikan jawaban yang tegas, jawaban yang tidak mengubah
konsep yang ada; jawaban dari ilmuwan yang ragu-ragu dalam kebijakan / kearifan
ilmunya. Suatu sikap yang mengandung nilai permisifistis, ragu-ragu sehingga
tidak tegas dalam membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Sikap ini
terurai dalam sikap-sikap berikut, yaitu : suatu sikap bijaksana dalam
ketidakbijakan menyatakan yang benar, sikap parsialistis dalam suatu
keterpaduan. (integralitas), dan sikap eksklusifistis (menyendiri) dalam suatu keutuhan
(holistis), sikap kebimbangan (dikhotomistik) dalam ketaat-asasan , atau
keajegan (consistency) ; yang semua itu merupakan sikap mendua (split
personality).
Sudut pandang lain, sikap ini
dapat menjadi pembenaran adanya paham Polytheistis (banyak Tuhan). Meskipun
sudut pandang ini banyak dituduhkan sebagai perluasan yang ekstrim dari prinsip
atau kaidah ilmiah, namun pandangan ini perlu dipertimbangkan sebagai suatu
pola fikir yang tidak mustahil dianut banyak orang.
Suatu berita menggembirakan
dari sisi pencerahan teori Hawking, adanya tulisan dari Lê Nguyên Hoang, Bidang
Applied Maths pada Polytechnique of Montreal.Engineer di Ecole Polytechnique, Perancis;
yang menyatakan bahwa sesungguhnya pada suatu keadaan dimungkinkan terdapat
banyak hipotesa. Pada pembahasan Hawking, tiap hipotesa melahirkan alam semesta
(Universe); sehingga sesuai pemahaman Nguyen Hoang ada banyak alam semesta
(multiverse) yang paralel. Karena yang ditinjau sama sebagai satu kehidupan, maka
semua multiverse ini memiliki satu sumber. Sesungguhnya semua hipotesa tersebut
pada akhirnya bermuara pada satu kebenaran. Konsep ini, memang tidak secara
eksplisit menyatakan keberadaan Tuhan yang Esa secara utuh, setidaknya dapat
diikuti sebagai landasan keimanan dalam menelusuri aspek empiric, atau
bukti-bukti ilmu pengetahuan.
Kebenaran yang satu menjadi
suatu rujukan ditengah berbagai nilai kerelatifan / kenisbian yang berkecamuk
dalam kehidupan telah diakui keberadaannya; setidaknya oleh seorang ilmuwan.
Sesungguhnya secara langsung maupun tidak langsung, Albert Einstein, seorang
ilmuwan Yahudi, yang dipandang sebagai bapak revolusi ilmu pengetahuan melalui
konsep / teori relativitasnya telah membuka wawasan dengan “Theory for everythings”nya.
Teorinya yang menyatakan bahwa seluruh interaksi atau keberadaan sesuatu
dimulai dari satu. Konsep ini yang kemudian melahirkan suatu konsep kelahiran
alam semesta dengan sebutan “ The Big Bang Theory” ( Konsep Ledakan Dahsyat).
Suatu lukisan yang indah, tidak
cukup indah bila hanya dipandang sekilas. Lukisan tersebut akan memiliki makna
keindahan lebih lengkap, manakala diperhatikan lebih rinci / detail. Detail
yang dimaksud dapat berupa bagian dari lukisan keseluruhan, seperti memandang
lukisan Monalisa dilihat bagian tangannya, bagian matanya , bagian pakaiannya
dan lain sebagainya. Detail lain dapat berbentuk pengerjaan atau prosesnya,
seperti : tingkat kehalusan pekerjaan, tingkat kesulitan pengerjaan, bahan yang
dipakai, warna, akurasi, dan lain
sebagainya. Dalam keterkaitannya disini, “Theory The Big Bang” tidak cukup
diketahui sebagai suatu bentuk peristiwa ledakan maha dahsyat semata, akan
lebih memberikan makna dan manfaat yang jauh lebih besar apabila diketahui
lebih rinci dalam berbagai sifat dan perilaku yang mengiringinya.
“Theory The Big Bang” merupakan
awal dan proses-proses selanjutnya dalam pembentukan alam semesta, termasuk di
dalamnya terdapat manusia dengan proses dan perkembangan peradaban yang
dibangunnya. Sesuai dengan hukum alam / Sunatullah, setiap proses yang dimaksud
disini, bukan semata diartikan sebagai proses kelahiran yang diikuti
pertumbuh-kembangan secara fisik, dan selanjutnya setelah mencapai titik
kulminasi atau titik potensi tertinggi akan menurun dan diakhiri oleh kematian
atau kehancuran semata; namun di dalamnya terdapat proses-proses yang bersifat
normatif dari sisi emosional, moral dan keyakinan. Selain dari itu, meskipun
bagian objek dan subjek yang terlibat dalam berbagai proses telah tiada, namun
seluruh proses akan terus bergulir, yang dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Memahami apa dan mengapa semua berproses di dalam alam semesta, secara langsung
maupun tidak langsung akan membentuk pola fikir dan kesadaran atas keberadaan
dan peran apa yang seharusnya dilaksanakan. Pemahaman yang utuh / kaffaah
tentang teori ini sekaligus dapat membangun pribadi-pribadi muslim kaffah,
masyarakat dan umat yang utuh (integrated) dan menyeluruh (holistic).
Sesuai konsep dan kerangka
nilai yang dianut dalam rangkaian tulisan ini, pada bagian-bagian tulisan
berikutnya akan dilihat pula sesuai dengan referensi yang telah ada.
Acuan :
Sebuah ilustrasi : tiga orang buta meneliti gajah, orang pertama meneliti secara lengkap dan detil akan tetapi hanya bagian belalainya saja, orang kedua meneliti hanya bagian telinganya saja, dan yang ketiga hanya bagian kakinya saja. Ketiganya secara meyakinkan membuktikan kebenaran akan teorinya dan memang tidak terbantah. Akan tetapi ketiganya tidak cukup untuk memberi kesimpulan tentang gajah yang sesungguhnya. Jadi untuk memahami ketuhanan diperlukan pemahaman ilmiah yang utuh menyeluruh dari berbagai aspek yang mungkin, tidak bisa diperoleh secara parsial.
BalasHapus